Rekor Penonton Terpecahkan: Pantai Gading, Ekuador, Belanda, Jepang, dan Swedia Lolos ke 32 Besar Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Total penonton Piala Dunia edisi ini menembus 3,6 juta, melampaui rekor Amerika Serikat 1994.
- Pantai Gading untuk pertama kalinya menembus fase gugur, sementara Ekuador menumbangkan Jerman.
- Belanda memuncaki Grup F, Jepang dan Swedia juga memastikan tempat di babak 32 besar.

Piala Dunia 2026 mencatat sejarah baru: total kehadiran penonton mencapai 3.605.357 orang, memecahkan rekor 3.587.538 yang bertahan sejak turnamen di Amerika Serikat pada 1994. Angka tersebut tercipta saat laga pembuka di Stadion New York New Jersey, menandai animo global yang luar biasa terhadap turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Di atas lapangan, hari itu juga diwarnai sejumlah kejutan dan pencapaian bersejarah. Pantai Gading, julukan The Elephants, untuk pertama kalinya melaju ke babak knockout setelah mengalahkan debutan Curaçao 2-0 di Philadelphia. Dua gol Nicolas Pepe pada menit ke-7 dan ke-62 memastikan tiket ke babak 32 besar. Pepe pun mencatatkan gol tercepat dalam sejarah Piala Dunia Pantai Gading.
Ekuador, yang sebelumnya belum pernah mencetak gol di turnamen ini, tampil heroik dengan membalikkan keadaan melawan Jerman. Tertinggal lebih dulu oleh gol cepat Leroy Sane pada menit kedua, Ekuador menyamakan kedudukan melalui Nilson Angulo tujuh menit kemudian. Gonzalo Plata kemudian menjadi pahlawan dengan voli jarak dekat di babak kedua, membawa Ekuador lolos ke fase gugur untuk kedua kalinya setelah 2006.
Di Grup F, Belanda memuncaki klasemen setelah menekuk Tunisia 3-1 di Kansas City. Dua gol cepat dalam tujuh menit pertama—satu gol bunuh diri Ellyes Skhiri dan satu dari Brian Brobbey—menjadi modal kemenangan. Jan Paul van Hecke memastikan kemenangan pada menit ke-61. Hasil ini membawa Belanda bertemu Maroko di babak 32 besar.
Jepang dan Swedia sama-sama mengamankan tiket ke fase gugur setelah bermain imbang 1-1 di Dallas. Daizen Maeda membawa Jepang unggul pada menit ke-54, namun Anthony Elanga menyamakan enam menit kemudian. Hasil ini membuat Jepang finis sebagai runner-up grup dan akan berhadapan dengan Brasil, sementara Swedia lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Jepang juga mencatatkan rekor tidak terkalahkan di fase grup untuk pertama kalinya.
Bagi Indonesia, pencapaian Jepang dan Pantai Gading menjadi bukti bahwa negara non-tradisional sepak bola mampu bersaing di panggung tertinggi. Dengan persiapan yang matang dan pengembangan pemain muda, bukan tidak mungkin Indonesia suatu hari nanti dapat meniru jejak mereka. Pertanyaan yang mengemuka: apakah PSSI dan pemerintah serius membangun ekosistem sepak bola yang berkelanjutan untuk mencapai level tersebut?



