Purbaya Heran Rupiah Terpuruk di Tengah Rapor Ekonomi Moncer: Sentimen Krisis 1998 Kembali Mencekam?
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku bingung melihat rupiah anjlok meski data ekonomi seperti pertumbuhan 5,61% dan inflasi terkendali menunjukkan kinerja positif.
- Pelemahan rupiah hingga Rp18.180/US$ memicu kekhawatiran publik akan krisis moneter 1998, namun pemerintah menilai fundamental ekonomi masih kuat dan akselerasi berlanjut.
- Purbaya optimistis sentimen negatif akan pudar jika pondasi ekonomi dijaga, sehingga rupiah berpotensi stabil dan menguat dalam beberapa bulan ke depan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut, sementara indikator ekonomi makro Indonesia justru menunjukkan kinerja solid. Dalam pernyataannya, ia menyoroti kontradiksi antara data pertumbuhan ekonomi yang positif dan tekanan terhadap mata uang Garuda yang sempat menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah.
Purbaya mencatat bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal pertama 2026, inflasi tetap terkendali, dan daya beli masyarakat terjaga. Namun, di saat yang sama, rupiah terdepresiasi hingga Rp18.180 per dolar AS pada 8 Juni 2026, memicu perbandingan dengan krisis moneter 1998. "Jadi agak aneh. Ketika ekonominya bagus, tumbuh 5,6%, inflasi terkendali, daya beli masyarakat terjaga, timbul seolah-olah kesan bahwa kita akan memburuk seperti 1997-1998," ujarnya, Senin (22/6/2026).
Menurut Purbaya, sentimen negatif yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan krisis 1998 tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini berbeda karena fundamental ekonomi lebih kuat, kebijakan pemerintah tepat sasaran, dan kebocoran anggaran terus ditekan. "Malah sedang mengalami akselerasi dan akan lebih baik ke depan. Ini menunjukkan kebijakan pembangunan Presiden tepat sasaran, tepat waktu, dan tidak bocor. Ada (bocor) sedikit, tapi dikurangin terus," imbuhnya.
Pertanyaan yang mengemuka di kalangan investor dan pelaku pasar adalah mengapa data makro yang baik tidak mampu menopang rupiah. Analis menilai faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve dan penguatan dolar AS secara global menjadi tekanan utama. Selain itu, persepsi risiko politik domestik pasca-pemilu juga turut mempengaruhi aliran modal asing. Meski demikian, Purbaya optimistis bahwa jika pemerintah konsisten menjaga pondasi ekonomi, sentimen negatif akan luntur dan rupiah berpotensi menguat.
Bagi pembaca di Indonesia, situasi ini mengingatkan pentingnya diversifikasi investasi dan kewaspadaan terhadap gejolak nilai tukar. Pelaku usaha yang bergantung pada impor perlu melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko. Sementara itu, masyarakat umum diimbau tidak panik dan tetap percaya pada kebijakan otoritas moneter dan fiskal.
Ke depan, fokus akan tertuju pada data pertumbuhan kuartal kedua 2026 yang ditargetkan mencapai 5,7%. Jika tercapai, hal itu bisa menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, tanpa perbaikan sentimen global dan kebijakan yang kredibel, rupiah masih rentan terhadap gejolak. Pertanyaan besarnya: akankah optimisme pemerintah terbukti, atau justru kontradiksi ini menjadi alarm bagi ekonomi Indonesia?



