Kroasia di Ambang Pintu Keluar: Dalic Desak Anak Asuhnya Bermain Layaknya Unggulan
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Zlatko Dalic menuntut perbaikan drastis di lini pertahanan setelah Kroasia dibantai Inggris 4-2 di laga perdana Grup L Piala Dunia 2026.
- Laga kontra Panama di Toronto menjadi laga hidup-mati: jika kalah dan Ghana tidak kalah dari Inggris, Kroasia dipastikan tersingkir lebih awal.
- Luka Modric akan mencatatkan penampilan ke-200 bersama tim nasional, sekaligus menjadi momentum emosional di tengah tekanan besar.

Pelatih kepala Kroasia, Zlatko Dalic, mengeluarkan peringatan keras kepada skuadnya: bertindaklah seperti tim unggulan atau bersiaplah pulang lebih awal. Menjelang laga krusial melawan Panama di Toronto, Dalic menuntut peningkatan signifikan di sektor pertahanan setelah performa buruk pada laga pembuka melawan Inggris.
Kroasia harus mengakui keunggulan Inggris dengan skor 4-2 dalam pertandingan yang memperlihatkan kelemahan fatal pada skema bola mati. Dalic, yang menukangi tim sejak 2017, secara blak-blakan menyebutnya sebagai eksekusi set-piece terburuk yang pernah ia saksikan selama masa kepelatihannya. "Kami harus lebih baik dari pertandingan terakhir. Kami harus memperbaiki kesalahan, terutama di pertahanan," ujarnya dalam konferensi pers sehari sebelum laga.
Situasi di Grup L sangat ketat. Inggris memuncaki klasemen dengan tiga poin, sama seperti Ghana, sementara Kroasia dan Panama masih nihil angka. Jika Kroasia kalah dari Panama dan Ghana mampu menghindari kekalahan dari Inggris, maka langkah Kroasia di Piala Dunia 2026 akan terhenti di fase grup. Ini adalah skenario terburuk yang tak ingin dibayangkan oleh publik sepak bola Kroasia, yang terbiasa melihat timnya melaju jauh di turnamen besar.
Gelandang Manchester City, Mateo Kovacic, justru melihat tekanan ini sebagai panggung yang sudah biasa bagi Kroasia. "Kami telah menunjukkan berkali-kali bahwa kami bermain terbaik saat situasi sulit," katanya. Keyakinan Kovacic didasari oleh pengalaman timnya yang kerap bangkit ketika terdesak, seperti saat menjadi runner-up Piala Dunia 2018 dan meraih peringkat ketiga pada edisi 2022.
Perhatian juga tertuju pada kapten tim, Luka Modric, yang akan menjalani laga ke-200 bersama Kroasia. Gelandang AC Milan berusia 40 tahun itu mendapat pujian setinggi langit dari Dalic. "Dia adalah tangan kanan saya di lapangan. Dia menjadi panutan dalam hal persiapan, permainan, dan perilaku di tim nasional," puji Dalic. Modric, yang merupakan peraih Ballon d'Or 2018, memiliki satu kesempatan terakhir untuk mengantar Kroasia meraih trofi Piala Dunia.
Dukungan moral juga datang dari tingkat tertinggi pemerintahan. Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic, yang tengah melakukan kunjungan resmi ke Kanada, dijadwalkan menemui tim sebelum pertandingan dan memberikan dukungan langsung dari tribun. Ia bahkan telah bertukar jersey dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney pada Senin lalu. "Kami berharap mendapat dukungan besar dari tribun. Kami benar-benar berharap penonton menjadi pemain ke-12 kami, dan kami akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan mereka," ujar Dalic.
Bagi Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik untuk melihat bagaimana tim sekelas Kroasia menghadapi tekanan. Pengalaman Kroasia di turnamen besar bisa menjadi pelajaran berharga bagi timnas Indonesia yang tengah membangun mental juara. Pertanyaan besarnya: mampukah Dalic membangkitkan kembali mental juara yang sempat pudar, atau justru Panama yang akan menuliskan sejarah baru?



