Legenda Olimpiade Inggris Dukung Penuh Rencana Tuan Rumah Pesta Olahraga 2040 di Utara
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah atlet Olimpiade dan Paralimpiade Inggris, termasuk peraih emas Dame Laura Kenny dan Sir Jason Kenny, menyatakan dukungan untuk tawaran tuan rumah Olimpiade 2040 dari wilayah utara Inggris.
- Pemerintah Inggris telah menugaskan UK Sport untuk melakukan kajian awal potensi biaya, manfaat sosial-ekonomi, dan peluang sukses tawaran tersebut, yang akan menjadi edisi pertama sejak London 2012.
- Wali Kota London, Sadiq Khan, mengkritik rencana tersebut karena mengesampingkan ibu kota, sementara para pendukung menekankan potensi persatuan nasional dan warisan positif bagi komunitas utara.

Sebuah kelompok atlet Olimpiade dan Paralimpiade Inggris, termasuk nama-nama besar seperti Dame Laura Kenny dan Sir Jason Kenny, secara resmi mendukung rencana wilayah utara Inggris untuk menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade pada dekade 2040-an. Dukungan ini disampaikan melalui pernyataan bersama yang menekankan bahwa kawasan tersebut memiliki "gairah terhadap olahraga yang tak tertandingi" dan mampu menyelenggarakan pesta olahraga kelas dunia.
Dalam pernyataan yang dirilis pekan ini, para atlet menyebut bahwa model multi-kota yang diadopsi Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Komite Paralimpiade Internasional (IPC) membuat konsep Olimpiade terdistribusi semakin layak. Mereka menambahkan bahwa "Great North Games" akan menjadi ajang nasional yang menyatukan seluruh Inggris Raya dan menunjukkan potensi terbaik bangsa. Mantan pesenam Beth Tweddle, pelari legendaris Sir Brendan Foster, Steve Cram, dan Allison Curbishley juga turut menandatangani pernyataan tersebut.
Langkah ini bermula ketika bulan lalu para menteri Inggris memerintahkan UK Sport untuk melakukan "kajian strategis awal" guna mengevaluasi kelayakan wilayah utara menjadi tuan rumah. Badan pendanaan tersebut akan meneliti potensi biaya penyelenggaraan, manfaat sosial-ekonomi, serta peluang sukses tawaran. Meski belum ada keputusan final, dukungan dari para atlet papan atas dianggap sebagai sinyal kuat bahwa gagasan ini mendapat momentum politik dan publik.
Namun, rencana ini tidak luput dari kritik. Wali Kota London, Sir Sadiq Khan, menyatakan bahwa mengesampingkan ibu kota adalah "kesempatan yang terlewatkan". Menurutnya, London memiliki infrastruktur dan pengalaman dari Olimpiade 2012 yang bisa menjadi aset berharga. Di sisi lain, Wali Kota Timur Laut, Kim McGuinness, menyambut antusias dukungan para atlet. Ia menegaskan bahwa "Olimpiade Great North" akan menjadi panggung global yang didorong oleh kebanggaan dan partisipasi komunitas utara, meninggalkan warisan kemakmuran, persatuan, dan pembaruan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Model multi-kota yang diusung IOC membuka peluang bagi negara-negara berkembang untuk mengajukan tawaran dengan membagi beban infrastruktur ke beberapa daerah. Jika Inggris utara berhasil mewujudkan Olimpiade 2040, hal itu bisa menjadi preseden bagi Indonesia untuk mempertimbangkan tawaran serupa di masa depan, misalnya dengan menggandeng kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Namun, tantangan pendanaan dan kesiapan regulasi masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Ke depan, pertanyaan mendasar yang mengemuka adalah: mampukah pemerintah Inggris meyakinkan publik bahwa investasi miliaran pound untuk Olimpiade kedua dalam 30 tahun sepadan dengan manfaat jangka panjang? Ataukah kritik dari London akan memaksa revisi skema tawaran? Keputusan akhir UK Sport dalam beberapa bulan mendatang akan menjadi penentu arah ambisi olahraga Inggris Raya.



