Alan Greenspan Tutup Usia 100 Tahun: Maestro Ekonomi yang Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- Alan Greenspan, mantan Gubernur The Fed yang memimpin selama 1987-2006, meninggal dunia pada usia 100 tahun akibat komplikasi Parkinson.
- Ia dipuji karena mendorong ekspansi ekonomi terpanjang kedua dalam sejarah AS, namun dikritik karena kebijakan longgar yang memicu krisis keuangan 2008.
- Warisan Greenspan menjadi pelajaran bagi bank sentral global, termasuk Bank Indonesia, dalam menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas.

Alan Greenspan, mantan ketua Federal Reserve yang disegani sekaligus kontroversial, meninggal dunia pada Senin (22 Juni) di usia 100 tahun karena komplikasi penyakit Parkinson. Kepergiannya menutup lembaran panjang seorang arsitek kebijakan moneter yang membawa Amerika Serikat melewati era boom dan bust, namun juga meninggalkan luka akibat krisis keuangan global 2008.
Greenspan memimpin bank sentral AS dari Agustus 1987 hingga Januari 2006, masa jabatan terlama kedua setelah William McChesney Martin. Di bawah kepemimpinannya, AS menikmati ekspansi ekonomi tanpa henti selama satu dekade penuh—dari Maret 1991 hingga Maret 2001—yang merupakan periode pertumbuhan terpanjang kedua dalam sejarah negeri Paman Sam. Ia dijuluki "maestro" karena keberaniannya membiarkan ekonomi berjalan tanpa menaikkan suku bunga secara agresif, meskipun banyak tekanan saat itu. Intuisinya bahwa lonjakan produktivitas pada pertengahan 1990-an akan menahan inflasi terbukti tepat dan menjadi acuan bagi para pembuat kebijakan hingga kini, termasuk mantan Ketua Fed Jerome Powell.
Namun, reputasi gemilang itu runtuh ketika gelembung harga perumahan yang membengkak selama empat tahun terakhir masa jabatannya pecah pada 2007-2009. Krisis keuangan yang dipicu oleh kredit macet perumahan menghancurkan perekonomian global dan mencoreng nama Greenspan. Kritikus menuding kebijakan moneter longgar dan sikapnya yang anti-regulasi—ia adalah pendukung kuat pasar keuangan tanpa banyak campur tangan pemerintah—telah membiarkan bank-bank mengambil risiko berlebihan. Greenspan sendiri mengaku "terkejut" bahwa asumsinya tentang kepentingan diri bankir yang seharusnya melindungi institusi mereka ternyata keliru. Dalam kesaksian di hadapan Komite Pengawasan dan Reformasi DPR AS pada 2008, ia mengakui, "Kami yang mengandalkan kepentingan diri lembaga pemberi pinjaman untuk melindungi ekuitas pemegang saham, termasuk saya sendiri, berada dalam keadaan tidak percaya yang terguncang."
Meskipun demikian, warisan Greenspan tidak bisa dinilai hitam-putih. Mantan pejabat senior Fed, Stephen Oliner, menilai, "Pendewaan yang terjadi tepat sebelum krisis keuangan tidak pernah layak diterima, dan hujatan yang diterimanya setelah ia pergi juga tidak sepenuhnya pantas." Greenspan memang layak mendapat pujian atas respons cepatnya terhadap kejatuhan pasar saham Black Monday pada Oktober 1987, hanya dua bulan setelah menjabat. Ia juga berhasil membawa AS melewati resesi 1990-1991, krisis keuangan Asia dan Rusia 1997-1998, pecahnya gelembung dot-com pada 2000, serta guncangan ekonomi pasca serangan 11 September 2001.
Bagi Indonesia, kisah Greenspan relevan dalam konteks pengelolaan kebijakan moneter dan regulasi keuangan. Bank Indonesia (BI) seringkali menghadapi dilema serupa: mendorong pertumbuhan ekonomi atau menahan inflasi. Pengalaman Greenspan mengingatkan bahwa kebijakan yang terlalu longgar dapat memicu gelembung aset, sementara terlalu ketat bisa menghambat ekspansi. Selain itu, sikap anti-regulasi Greenspan menjadi peringatan bagi otoritas Indonesia untuk tetap waspada terhadap risiko sistemik di sektor perbankan dan pasar modal. Krisis 2008 membuktikan bahwa pengawasan yang longgar dapat berakibat fatal, meskipun motif awalnya adalah memberikan ruang bagi inovasi keuangan.
Di luar kebijakan, Greenspan adalah pribadi yang unik. Ia belajar klarinet di Juilliard School, sempat bermain saksofon di sebuah band swing, sebelum beralih ke ekonomi di New York University. Ia juga dekat dengan novelis Ayn Rand, yang gagasan pasar bebasnya memengaruhi pandangannya. Gaya komunikasinya yang berbelit-belit—yang disebutnya "Fed speak"—sering membuat bingung, bahkan istrinya, Andrea Mitchell, mengaku tidak mengerti saat pertama kali Greenspan melamarnya. Ia dikenal suka berpikir di bak mandi, kadang hingga dua jam sambil membaca laporan.
Pertanyaan yang kini menggantung: bagaimana seharusnya para pembuat kebijakan di Indonesia dan negara berkembang lainnya menimbang antara kebijakan yang mendorong pertumbuhan dan kewaspadaan terhadap risiko? Warisan Greenspan mengajarkan bahwa tidak ada resep abadi; setiap era menuntut keseimbangan baru antara keyakinan pada pasar dan perlunya intervensi yang bijak.



