Telkom Siapkan Belanja Modal Rp28 Triliun untuk 5G, Fiber, dan Data Center
Baca dalam 60 detik
- Telkom mengalokasikan 17-19% dari pendapatan untuk belanja modal tahun ini, fokus pada ekspansi 5G dan infrastruktur digital.
- Investasi terbesar masih bertumpu pada Telkomsel yang menyumbang 70% pendapatan grup, namun data center dan fiber optik juga menjadi prioritas.
- Meski laba bersih terkontraksi akibat depresiasi, arus kas operasional tumbuh 3,1% berkat efisiensi dan disiplin penagihan.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menggelontorkan belanja modal hingga Rp28 triliun pada tahun ini, dengan fokus utama mempercepat pembangunan jaringan 5G, memperluas cakupan fiber optik, dan menggenjot kapasitas data center. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa operator pelat merah itu tengah bertransformasi di tengah ledakan permintaan infrastruktur digital akibat kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi nasional.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengungkapkan bahwa alokasi belanja modal setara 17% hingga 19% dari pendapatan perusahaan. Dari jumlah itu, porsi terbesar tetap diberikan kepada Telkomselโanak usaha yang berkontribusi 70% terhadap pendapatan grup. Namun, Dian menegaskan bahwa dana tersebut tidak hanya untuk memperkuat jaringan seluler, melainkan juga untuk membangun Fiber to the Home (FTTH) Indihome dan memperkuat backbone fiber optik agar menjangkau seluruh pulau dan kota di Indonesia.
Investasi di sektor data center menjadi sorotan tersendiri. Menurut Dian, pertumbuhan AI telah mendorong lonjakan kebutuhan data center secara eksponensial. "Kondisi data center sedang booming, dan pertumbuhan ini memerlukan investasi yang lumayan tinggi," ujarnya dalam acara Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Senin (22/6/2026). Telkom pun memanfaatkan momentum ini untuk memperluas kapasitas pusat data yang sudah ada maupun membangun yang baru, sejalan dengan strategi menjadi pemain utama di ekosistem digital regional.
Kinerja keuangan Telkom pada kuartal pertama 2026 menunjukkan tekanan jangka pendek. Laba bersih tercatat Rp4,3 triliun, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama akibat percepatan depresiasi dan normalisasi bisnis selama transformasi. Meski demikian, manajemen menekankan bahwa tekanan ini bersifat transisional dan non-kas, sementara fundamental operasional tetap solid. EBITDA margin yang tinggi di atas 48% dan pertumbuhan arus kas operasional sebesar 3,1% menjadi indikator bahwa efisiensi TOTEX dan disiplin penagihan mulai membuahkan hasil.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, langkah agresif Telkom ini memiliki implikasi strategis. Pertama, ekspansi 5G dan fiber optik akan mempercepat konektivitas di daerah terpencil, membuka peluang baru bagi sektor UMKM dan layanan digital. Kedua, investasi data center menempatkan Telkom sebagai pemain kunci dalam ekonomi AI di Asia Tenggara, bersaing dengan Singapura dan Malaysia. Namun, risiko over-investasi dan tekanan pada margin jangka pendek tetap perlu dicermati, terutama jika permintaan data center tidak secepat yang diperkirakan.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah bagaimana Telkom menjaga keseimbangan antara belanja modal yang tinggi dan profitabilitas. Dengan utang yang terkendali dan arus kas yang positif, perusahaan tampaknya memiliki ruang untuk terus berinvestasi. Namun, jika pertumbuhan pendapatan tidak mampu mengimbangi depresiasi, tekanan pada laba bersih bisa berlanjut. Publikasi laporan keuangan semester I-2026 pada Agustus mendatang akan menjadi ujian pertama apakah strategi ini berjalan sesuai rencana.



