Petisi Suporter Roma Tolak Mason Greenwood: Soal Nilai Klub, Bukan Sekadar Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Suporter AS Roma meluncurkan petisi daring untuk mencegah klub merekrut Mason Greenwood dari Marseille dengan nilai transfer sekitar โฌ50 juta.
- Petisi yang telah mengumpulkan hampir 500 tanda tangan dalam sehari menilai Greenwood adalah figur paling kontroversial di sepak bola modern karena kasus kekerasan seksual dan domestik yang pernah menjeratnya.
- Para pendukung menilai keputusan ini bertentangan dengan kampanye anti-kekerasan berbasis gender yang selama ini digaungkan Roma, dan berpotensi merusak citra klub di mata sponsor serta komunitas.

Suporter AS Roma secara terbuka menolak rencana manajemen klub yang dikabarkan akan merekrut Mason Greenwood dari Marseille dengan banderol โฌ50 juta. Sebuah petisi daring yang digagas pendukung Giallorossi dalam 24 jam pertama telah mengumpulkan hampir 500 tanda tangan, menuntut agar klub membatalkan niat mendatangkan pemain yang mereka sebut sebagai 'salah satu figur paling kontroversial dalam sepak bola modern'.
Greenwood, yang kini berusia 24 tahun, sempat menjadi sorotan dunia setelah ditangkap polisi pada Januari 2022 atas tuduhan pemerkosaan, penyerangan seksual, dan ancaman pembunuhan terhadap seorang perempuan. Meskipun tuduhan tersebut kemudian dicabut oleh Crown Prosecution Service pada Februari 2023 karena mundurnya saksi kunci dan ditemukannya 'materi baru', jejak kasus itu terus membayangi kariernya. Ia tidak pernah lagi bermain untuk Manchester United atau timnas Inggris sejak insiden tersebut.
Marseille, yang membeli Greenwood secara permanen pada Juli 2024 setelah masa peminjaman di Getafe, kini terdesak menjual pemain untuk memenuhi regulasi Financial Fair Play. Di sisi lain, Roma membutuhkan amunisi baru di lini depan menjelang musim 2026-27. Namun, langkah ini justru memicu gelombang penolakan dari pendukung setia klub ibu kota Italia.
Dalam petisi yang beredar, para suporter menegaskan bahwa penolakan mereka bukan didasari kebencian pribadi atau ketidakpercayaan terhadap proses rehabilitasi seseorang. "Ini bukan soal penebusan dosa. Ini soal representasi. Setiap rekrutan mencerminkan nilai-nilai yang dipilih klub untuk diperjuangkan," demikian bunyi pernyataan dalam petisi tersebut. Mereka menilai bahwa Greenwood, terlepas dari perkembangan hukum, tetap menjadi figur yang membawa beban reputasi berat karena tuduhan kekerasan domestik dan seksual yang pernah mengguncang publik.
Kekhawatiran lain yang diangkat adalah potensi benturan dengan kampanye sosial yang selama ini diusung Roma. Klub secara konsisten mempromosikan inisiatif 'Amami e Basta' yang fokus pada pencegahan kekerasan berbasis gender. Para suporter khawatir merekrut Greenwood akan mengirim pesan yang kontradiktif, tidak hanya kepada sponsor dan mitra komunitas, tetapi juga kepada para penyintas kekerasan domestik yang mungkin menjadi bagian dari basis pendukung.
Dari sisi olahraga, petisi menekankan bahwa tidak ada pemain yang benar-benar tidak tergantikan. "Sepak bola Eropa menawarkan banyak alternatif berbakat yang tidak membawa beban reputasi serupa. Memilih Greenwood berarti membuka klub pada risiko komersial, hubungan masyarakat, dan institusional yang tidak perlu," tulis para penggagas petisi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa klub-klub Eropa kini semakin dihadapkan pada tekanan etis di luar performa di lapangan. Keputusan Roma akan menjadi ujian apakah nilai-nilai sosial yang dikampanyekan benar-benar dijalankan atau sekadar menjadi alat pemasaran. Pertanyaan besarnya: akankah manajemen Roma mendengarkan suara pendukungnya, atau tetap melanjutkan rencana transfer demi kebutuhan taktis semata?



