Dari Idola Jadi Lawan: Uzbekistan Bersiap Hadapi Ronaldo di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Uzbekistan akan berhadapan dengan Portugal dan megabintang Cristiano Ronaldo pada laga kedua Grup K Piala Dunia 2026.
- Kehadiran Uzbekistan di Piala Dunia untuk pertama kalinya memicu kebanggaan nasional dan mengubah lanskap sepak bola Asia Tengah.
- Prestasi Uzbekistan di level junior dan senior menunjukkan perkembangan pesat, dengan talenta lokal mulai bersinar di panggung global.

Uzbekistan, salah satu dari empat debutan Piala Dunia 2026, bersiap menghadapi ujian terbesar saat berjumpa Portugal dan megabintang Cristiano Ronaldo di laga kedua Grup K, Selasa (24/6) waktu setempat. Pertemuan ini menjadi momen emosional bagi para penggemar Uzbekistan yang selama bertahun-tahun mengidolakan Ronaldo, namun kini harus berhadapan langsung dengan sang idola demi mimpi besar mereka di panggung sepak bola dunia.
Bagi warga Uzbekistan, Ronaldo bukan sekadar pemain asing. Di pasar-pasar tradisional Samarkand dan Bukhara, kaus dengan nama CR7 dan Lionel Messi masih mendominasi. Namun, generasi baru mulai bermunculan—dari Kylian Mbappe hingga bakat lokal seperti Abdukodir Khusanov dan Abbosbek Fayzullaev. “Ronaldo adalah inspirasi besar. Setiap anak ingin menjadi seperti dia,” ujar Nuraddin Boltaboev, warga Khiva yang sebelumnya selalu mendukung Portugal di Piala Dunia. “Tapi tahun ini, saya bisa mendukung negara saya sendiri.”
Kebanggaan itu terasa nyata setelah Uzbekistan, yang diasuh Fabio Cannavaro—pemenang Piala Dunia 2006 dan Ballon d'Or—, akhirnya menembus putaran final. Pada laga perdana, mereka kalah 3-1 dari Kolombia di Mexico City Stadium. Namun, semangat tak surut. “Perasaan ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan dan kebanggaan membuat orang menangis,” kata Sanjar Azizov, warga Tashkent yang menyaksikan langsung pertandingan. “Ini mimpi yang menjadi kenyataan.”
Perjalanan Uzbekistan ke Piala Dunia bukanlah kebetulan. Sepak bola negara Asia Tengah ini sedang naik daun. Pada 2023, tim U-17 mereka menyingkirkan Inggris di babak 16 besar, sementara tim U-20 menjadi juara Asia. Setahun kemudian, Uzbekistan tampil di Olimpiade Paris, dan tim senior memenangi CAFA Nations Cup. Tahun depan, mereka akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia U-20. “Kami dikritik bertahun-tahun karena tidak lolos Piala Dunia. Sekarang, pemain seperti Khusanov dan Fayzullaev menyorotkan cahaya ke Uzbekistan,” ujar Shokhrukh Tojiev, warga Tashkent.
Fenomena ini juga berdampak pada pariwisata. Azizov mencatat ledakan turis asing yang ingin menyaksikan langsung kebangkitan sepak bola Uzbekistan. “Negara ini penuh dengan orang dari seluruh dunia,” katanya. Sepak bola kini menjadi olahraga nomor satu bersama tinju. Infrastruktur pun digenjot: lapangan dan akademi baru bermunculan. “Semua orang ingin anaknya menjadi seperti Khusanov,” tambah Azizov.
Bagi Indonesia, kisah Uzbekistan menawarkan pelajaran berharga. Dengan investasi pada pembinaan usia muda dan kompetisi domestik yang ketat, negara berpenduduk 35 juta ini mampu bersaing di level tertinggi. Keberhasilan mereka lolos ke Piala Dunia—sesuatu yang masih diperjuangkan Indonesia—menunjukkan bahwa mimpi itu mungkin, asalkan ada konsistensi dan dukungan sistem. Pertanyaan besarnya: mampukah Indonesia meniru jejak Uzbekistan dalam satu dekade ke depan?



