Olivia Cooke: Bekerja dengan Spielberg Itu Intimidasi, Tapi Juga Menyenangkan
Baca dalam 60 detik
- Olivia Cooke mengaku terintimidasi oleh kecerdasan Steven Spielberg saat syuting 'Ready Player One'.
- Spielberg mampu mengerjakan dua film sekaligus, mengedit di sela syuting dan menciptakan adegan dadakan.
- Cooke juga mengkritik tekanan selebritas di industri film yang kerap mengalihkan fokus dari akting.

Aktris Olivia Cooke, yang dikenal lewat perannya dalam serial House of the Dragon, mengungkapkan kekagumannya sekaligus rasa terintimidasinya saat bekerja bersama sutradara legendaris Steven Spielberg dalam film Ready Player One (2018). Menurut Cooke, kemampuan Spielberg mengelola produksi secara multitasking membuatnya merasa kecil di hadapan sang maestro.
Dalam wawancara dengan The Telegraph, Cooke menceritakan bagaimana Spielberg menjalankan proses syuting yang tidak biasa. Di sela-sela pengambilan gambar, ia menyempatkan diri menyunting film lain yang baru saja rampung. โDia seperti menyutradarai dua film sekaligus,โ ujar Cooke. โAda dunia simulasi dan dunia nyata. Dia bisa menciptakan urutan baru secara spontan untuk kami improvisasi dengan kostum motion-capture, sambil memikirkan bagaimana adegan itu akan dipotong dengan reaksi nyata yang sudah kami rekam.โ
Cooke, yang saat itu berusia 24 tahun, mengaku terpesona oleh kecepatan kerja Spielberg. โSaya pikir, saya tidak mengerti bagaimana dia melakukannya. Dia mengintimidasi karena dia jenius, tapi dia juga sangat menyenangkan,โ tambahnya. Pengalaman ini menjadi salah satu momen paling berkesan dalam kariernya, meskipun ia harus berhadapan dengan tekanan lain di industri hiburan.
Selain pengalaman bersama Spielberg, Cooke juga berbagi cerita tentang persaingan tidak sehat yang dialaminya saat masih muda. Di usia 18-20 tahun, ia kerap bertemu dengan aktris yang sama dalam audisi di Los Angeles. Aktris tersebut, yang tidak disebutkan namanya, kerap melakukan aksi psikologis seperti melakukan yoga di lantai, membaca naskah dengan pura-pura, hingga menangis dramatis setelah audisi. โSaya hampir merasa senang melihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya,โ kata Cooke, menceritakan bagaimana ia akhirnya menikmati tingkah laku rivalnya itu.
Cooke juga menyoroti sisi gelap industri hiburan, terutama tekanan yang dihadapi aktris perempuan. Ia mengaku kesulitan dengan sorotan publik terhadap penampilan fisik, usia, dan daya tarik seksual. โSaya hanya ingin bercerita dan membuat film bagus yang dinikmati orang, tapi kemudian ada tatapan ini setelahnya, ketika Anda harus melakukan banyak wawancara,โ keluhnya. Ia bahkan sering bertanya kepada humasnya tentang cara meminimalkan kegiatan publisitas.
Bagi industri perfilman Indonesia, pengakuan Cooke menjadi pengingat bahwa tekanan selebritas bukan hanya fenomena Hollywood. Di Tanah Air, aktor dan aktris juga kerap menghadapi tuntutan serupa, mulai dari standar kecantikan hingga ekspektasi media sosial. Namun, keberanian Cooke untuk menyuarakan ketidaknyamanannya bisa menjadi inspirasi bagi para pekerja seni lokal untuk lebih selektif dalam menjalani karier.
Ke depan, Cooke berharap industri film bisa lebih menghargai esensi akting daripada popularitas. โAda lebih banyak tekanan sekarang pada aspek selebritas dari menjadi seorang aktor, dan itu bisa memengaruhi apakah orang ingin mempekerjakan Anda. Saya tidak ingin berlangganan itu sama sekali,โ tegasnya. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan global, termasuk Indonesia, berubah menjadi lebih ramah bagi seniman yang ingin fokus pada karya?



