Ketegangan AS-Iran dan Sinyal The Fed Bikin Pasar Global Limbung, IHSG Terancam?
Baca dalam 60 detik
- Pasar saham global bergerak mixed setelah pembatalan perundingan AS-Iran di Jenewa memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak.
- Sikap hawkish The Fed soal suku bunga tinggi menekan minat risiko investor, meski sektor teknologi AS sempat menguat.
- Indeks utama Afrika Selatan anjlok 2% lebih, sementara bursa Asia terpecah; Indonesia berpotensi terkena dampak dari pelemahan komoditas dan capital outflow.

Pembatalan mendadak perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan di Jenewa akhir pekan lalu memicu gelombang kekhawatiran baru di pasar keuangan global, mengancam prospek perdamaian yang rapuh di Timur Tengah dan menekan harga komoditas. Situasi ini diperparah oleh sikap bank sentral AS (The Fed) yang tetap agresif dalam mempertahankan suku bunga tinggi, membuat investor di berbagai bursa dunia mengambil posisi defensif.
Dalam laporan singkatnya, First National Bank (FNB) menilai bahwa ketidakpastian dari dua arah—eskalasi geopolitik dan kebijakan moneter ketat—menjadi pendorong utama volatilitas pasar saat ini. “Renewed threats of military action and disruption to oil supplies cast a shadow over the week’s opening,” tulis FNB, menggarisbawahi risiko gangguan pasokan minyak yang bisa memicu lonjakan harga energi dan memperlambat pemulihan ekonomi global.
Bursa Asia menunjukkan pergerakan yang terpecah. Indeks Hang Seng Hong Kong tertekan 0,98% akibat aksi jual di sektor keuangan dan teknologi, sementara Nikkei 225 Jepang justru melesat 1,62% didorong oleh pelemahan yen yang menguntungkan eksportir. Di Australia, ASX 200 melemah tipis 0,05% karena sektor teknologi, pertambangan, dan energi tertekan. Sementara itu, bursa Eropa seperti FTSE 100 dan Euro Stoxx 50 masing-masing turun 0,35% dan 0,48% sepanjang pekan lalu, mencerminkan sikap wait-and-see investor menunggu perkembangan negosiasi Timur Tengah.
Di kawasan Asia, saham raksasa teknologi Tencent yang turun 1,68% ikut membebani prospek Naspers dan Prosus—dua perusahaan induk yang banyak diperdagangkan di bursa Afrika Selatan. Pelemahan sektor pertambangan Australia, dengan ASX 300 Metals & Mining Index turun 0,21%, juga menjadi sinyal suram bagi emiten komoditas di negara berkembang. Meskipun harga emas masih memberikan sedikit dukungan bagi tambang logam mulia, platinum justru merosot ke level terendah dalam tujuh bulan, menekan saham produsen logam golongan platinum (PGM).
Bursa Afrika Selatan (JSE) menjadi salah satu yang paling terpukul. Indeks All Share dan Top 40 masing-masing jatuh 2,08% dan 2,52% pada penutupan pekan lalu, dipicu oleh aksi jual besar-besaran di sektor sumber daya. Harga komoditas yang melemah dan kekhawatiran akan pembatalan perundingan AS-Iran membuat investor keluar dari saham tambang. Sektor finansial justru mencatat kenaikan tipis 1,02%, menjadi satu-satunya sektor yang bertahan di zona hijau.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut diwaspadai. Sebagai negara pengimpor minyak, ketegangan AS-Iran berpotensi mendorong harga minyak mentah lebih tinggi, yang bisa memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, sikap hawkish The Fed membuat investor asing cenderung menarik dana dari pasar emerging market, termasuk Indonesia, untuk beralih ke aset aman seperti dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi tertekan jika capital outflow semakin deras, terutama di sektor komoditas dan perbankan yang sensitif terhadap suku bunga global.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah ada sinyal perbaikan dalam hubungan AS-Iran, serta keputusan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya. Jika ketegangan berlanjut dan suku bunga tetap tinggi, volatilitas di pasar saham dan komoditas diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Pertanyaan besarnya: akankah bank sentral negara berkembang, termasuk Bank Indonesia, mampu menahan tekanan eksternal ini tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi domestik?



