BIB Ajudan Terlepas, Brigjen Yuniar Bersitegang dengan Panitia Jogja Marathon
Baca dalam 60 detik
- Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono terlibat cekcok dengan panitia Mandiri Jogja Marathon 2026 setelah ajudannya ditarik karena kehilangan nomor peserta.
- TNI AD menyebut insiden itu kesalahpahaman teknis: BIB ajudan terlepas di lintasan padat, bukan pelanggaran sengaja.
- Kedua pihak telah berdamai, namun video viral memicu perdebatan soal etika dan kepatuhan aturan di acara publik.

Seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat, Brigjen Yuniar Dwi Hantono, menjadi sorotan setelah videonya bersitegang dengan panitia Mandiri Jogja Marathon 2026 viral di media sosial. Insiden itu dipicu oleh ajudannya yang ditarik keluar dari lintasan lomba karena tidak mengenakan nomor identitas peserta atau BIB.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen Donny Pramono, menjelaskan bahwa peristiwa yang terjadi pada Minggu (21/6) itu murni kesalahpahaman. Menurutnya, Brigjen Yuniar saat itu mengikuti maraton bersama istri, seorang anak, dan ajudan. Keempatnya telah terdaftar sebagai peserta resmi dan memiliki tiket serta BIB masing-masing. Namun, di tengah perlombaan yang padat, BIB milik ajudan terlepas dan jatuh di lintasan.
"Nomor peserta tersebut terlepas saat berada di lintasan yang cukup padat sehingga menimbulkan kesalahpahaman saat pemeriksaan oleh petugas," ujar Donny dalam pernyataan resmi. Petugas pengawas lintasan kemudian memberhentikan ajudan yang saat itu sedang berlari sambil mendokumentasikan Brigjen Yuniar. Tindakan itu diprotes keras oleh sang jenderal, yang terekam dalam video yang beredar luas.
Donny menegaskan bahwa setelah kejadian, pihak penyelenggara, event organizer, dan Brigjen Yuniar telah berkomunikasi dan melakukan klarifikasi. "Seluruh pihak memahami bahwa kejadian tersebut murni merupakan persoalan teknis di lapangan dan telah diselesaikan dengan baik," katanya. TNI AD juga mengapresiasi kerja panitia yang dinilai profesional dalam menegakkan aturan perlombaan.
Insiden ini memicu perdebatan di media sosial, sebagian warganet mengkritik sikap Brigjen Yuniar yang dianggap arogan, sementara yang lain membela karena ajudan sebenarnya terdaftar. Donny berharap masyarakat tidak terjerumus pada informasi yang belum terverifikasi. "Kami berharap masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara proporsional dan tidak mengaitkannya dengan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya," ucapnya.
Ke depan, kasus ini menjadi pengingat pentingnya kepatuhan terhadap aturan teknis di acara massal, sekaligus perlunya komunikasi yang lebih baik antara peserta dan penyelenggara. Akankah TNI AD mengeluarkan pedoman khusus bagi anggotanya yang mengikuti event publik? Atau justru memperkuat koordinasi dengan panitia untuk menghindari insiden serupa?



