IHSG Terperosok di Sesi I, Asing Lepas Saham Perbankan Rp771 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net sell Rp771,1 miliar di seluruh pasar saham Indonesia pada sesi pertama perdagangan Senin, dipimpin aksi jual di saham perbankan besar.
- Saham BBRI, TPIA, dan BBCA menjadi yang paling banyak dilepas, sementara saham komoditas seperti ANTM dan TINS justru diburu asing.
- IHSG ditutup turun 1,25% ke level 6.099,92, mengindikasikan tekanan jual masih dominan meski sentimen global mulai membaik.

Tekanan jual investor asing kembali mendominasi perdagangan saham Indonesia pada sesi pertama Senin (22/6/2026), dengan nilai jual bersih mencapai Rp771,1 miliar. Aksi ini terjadi meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka di zona hijau, namun akhirnya terpaksa merosot ke level 6.099,92 atau anjlok 1,25%.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, nilai transaksi asing pada sesi pertama mencapai Rp5,6 triliun, dengan pembelian Rp2,4 triliun dan penjualan Rp3,2 triliun. Sektor perbankan berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama pelepasan, menandakan kekhawatiran investor terhadap prospek industri keuangan domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memimpin daftar net sell asing dengan nilai Rp126,8 miliar, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp115,3 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp100,6 miliar, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp82,7 miliar. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga tidak luput dari aksi jual, masing-masing mencatat net sell Rp77,6 miliar dan Rp50,3 miliar.
Di luar sektor perbankan, saham-saham tambang dan energi juga menjadi sasaran jual asing, antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp41,9 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp37,4 miliar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp33,7 miliar, dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp32,3 miliar. Pola ini menunjukkan investor asing cenderung melakukan aksi ambil untung di sektor yang sebelumnya menjadi favorit.
Menariknya, di tengah tekanan jual, saham berbasis komoditas justru menjadi incaran. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat pembelian bersih tertinggi sebesar Rp97,1 miliar, diikuti PT Timah Tbk (TINS) Rp78,5 miliar, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp17,6 miliar. Saham lain yang diburu asing antara lain PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Bagi investor domestik, pergerakan ini memberikan sinyal bahwa aliran modal asing masih belum stabil. Meskipun IHSG sempat dibuka menguat di level 6.217,05, tekanan jual yang berlangsung konsisten sejak awal sesi mengindikasikan bahwa ekspektasi pemulihan pasar masih rapuh. Para analis memperkirakan, jika aksi jual asing terus berlanjut, IHSG berpotensi menguji level support psikologis 6.000 dalam waktu dekat.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data ekonomi global, terutama kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan pergerakan harga komoditas, yang menjadi katalis utama bagi minat investor asing terhadap aset berisiko di Indonesia. Pertanyaannya, akankah aksi beli di saham komoditas mampu menahan laju pelemahan IHSG, atau justru tekanan jual akan semakin meluas?



