Purbaya di Nankai: Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Defisit Terjaga di Bawah 3%
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan ketahanan fiskal Indonesia di hadapan akademisi Nankai University, Tianjin, China.
- Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61% year-on-year, melampaui rata-rata negara G20 dan ASEAN.
- Pemerintah mempercepat hilirisasi dan industrialisasi sebagai bagian dari transformasi struktural untuk pertumbuhan inklusif.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim perekonomian Indonesia berada dalam kondisi prima di tengah ketidakpastian global. Pernyataan itu disampaikan dalam kuliah umum di Nankai University, Tianjin, China, akhir pekan lalu, di hadapan rektor dan ratusan mahasiswa.
Purbaya menegaskan bahwa pengelolaan fiskal Indonesia saat ini sangat sehat dan prudent. Defisit anggaran konsisten berada di bawah batas amanat undang-undang sebesar 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Hal ini, menurutnya, menjadi fondasi utama ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global yang mulai mereda.
Bukti konkret ketangguhan itu terlihat dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut menempatkan Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 dan kawasan ASEAN. Purbaya menyebut pencapaian ini sebagai hasil dari kebijakan fiskal yang disiplin dan transformasi struktural yang sedang berjalan.
Pemerintah, kata Purbaya, saat ini mempercepat hilirisasi dan industrialisasi untuk memperkuat nilai tambah domestik. Selain itu, program ekonomi kerakyatan dan pembangunan pedesaan terus digalakkan, bersamaan dengan upaya pengentasan kemiskinan melalui bantuan sosial dan penciptaan lapangan kerja terintegrasi.
Menurut analis ekonomi, pesan Purbaya di Nankai University bukan sekadar promosi, melainkan sinyal kepada investor internasional bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang stabil. Di tengah perlambatan ekonomi China dan ketegangan geopolitik, stabilitas fiskal Indonesia menjadi pembeda utama dibanding negara emerging market lainnya.
Bagi pembaca di Indonesia, kuliah umum ini memiliki implikasi langsung. Pertama, keyakinan pemerintah terhadap pengelolaan fiskal yang prudent dapat mendorong kepercayaan pasar domestik. Kedua, akselerasi hilirisasi berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan nilai ekspor. Namun, tantangan tetap ada, seperti ketergantungan pada komoditas dan kesenjangan antarwilayah.
Purbaya juga menggarisbawahi pentingnya sektor pertahanan, keamanan, penegakan hukum, dan digitalisasi sebagai penopang pembangunan nasional. Semua elemen ini, menurutnya, harus berjalan sinergis agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: mampukah Indonesia mempertahankan momentum pertumbuhan di atas 5% di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi? Jawabannya akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan fiskal dan keberhasilan transformasi struktural yang sedang dijalankan.



