Ledakan di Terminal Gas Utama Qatar: 54 Terluka, 18 Hilang
Baca dalam 60 detik
- Ledakan di fasilitas gas Barzan, Ras Laffan, melukai 54 orang dan membuat 18 lainnya hilang saat upaya restart produksi pasca serangan Iran.
- Insiden ini berpotensi mengganggu pasokan gas global, mengingat Qatar adalah salah satu produsen gas alam terbesar dunia.
- Krisis energi global kian kompleks, dengan dampak langsung pada harga dan keamanan pasokan, termasuk bagi importir seperti Indonesia.

Ledakan dahsyat mengguncang terminal ekspor gas alam utama Qatar di kawasan industri Ras Laffan, Minggu (21/6) malam, saat pekerja berupaya memulai kembali produksi setelah serangan Iran. Insiden tersebut menyebabkan kebakaran hebat yang melukai setidaknya 54 orang, sementara 18 lainnya masih dinyatakan hilang hingga Senin pagi.
Peristiwa ini berpotensi memicu gejolak baru di pasar energi global. Qatar, yang memiliki cadangan gas alam terbesar ketiga di dunia, selama ini menjadi pemasok utama bagi banyak negara, termasuk di Asia. Sejak perang Iran-Israel memanas, produksi di Ras Laffan terhenti akibat blokade Iran di Selat Hormuz dan serangan rudal pada Maret lalu yang menyebabkan kerusakan parah.
Ketika Iran mulai melonggarkan tekanan di selat strategis itu seiring negosiasi gencatan senjata, Qatar pun mencoba menghidupkan kembali terminal ekspornya. Namun, upaya tersebut berujung petaka. Perusahaan minyak negara QatarEnergy menyatakan bahwa ledakan dan kebakaran terjadi di fasilitas pasokan gas Barzan, yang memiliki kapasitas produksi hampir 1,4 miliar kaki kubik standar per hari. Gas tersebut terutama digunakan untuk pembangkit listrik dan operasi desalinasi air di Semenanjung Arab.
Skala kerusakan masih belum diketahui. Awalnya, otoritas setempat hanya melaporkan sedikit korban, namun beberapa jam kemudian Kementerian Dalam Negeri Qatar merevisi angka korban secara signifikan. Kejadian ini menambah daftar panjang gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi alarm tersendiri. Meski Indonesia bukan importir utama gas Qatar, stabilitas pasar gas global sangat memengaruhi harga LNG yang dibeli Indonesia dari berbagai pemasok. Gangguan pasokan dari Qatar dapat mendorong kenaikan harga spot LNG, yang berimbas pada belanja energi nasional dan tarif listrik. Selain itu, Indonesia juga perlu mewaspadai potensi dampak tidak langsung terhadap pasokan gas bumi domestik.
Qatar telah memanfaatkan kekayaan gasnya untuk meningkatkan pengaruh global, termasuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, mendirikan jaringan Al Jazeera, dan menjadi mediator internasional. Namun, konflik dengan Iran dan ketergantungan pada Selat Hormuz membuat negara kecil ini rentan terhadap guncangan geopolitik. Ledakan ini menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok energi global di tengah ketegangan perang.
Ke depan, pertanyaan besar adalah seberapa cepat Qatar dapat memulihkan produksi dan apakah insiden ini akan memicu eskalasi baru antara Qatar dan Iran. Sementara itu, pasar energi dunia menanti kepastian, dan negara-negara pengimpor seperti Indonesia harus bersiap menghadapi volatilitas harga yang berkepanjangan.



