Nintendo Cetak Laba Kuartalan Melonjak 53,5% Berkat Game Baru dan Pengembalian Tarif AS
Baca dalam 60 detik
- Laba bersih Nintendo April-Juni 2025 mencapai 147,4 miliar yen, melampaui ekspektasi analis hampir dua kali lipat.
- Kesuksesan Tomodachi Life dan Pokemon Pokopia mendorong penjualan software, meski penjualan unit Switch 2 mulai melambat.
- Nintendo mempertahankan target laba tahunan 310 miliar yen, dengan harapan remake Zelda dan film Mario menjaga momentum.

Tokyo โ Nintendo mencatatkan lonjakan laba bersih lebih dari 50 persen pada kuartal pertama tahun fiskal 2025, didorong oleh penjualan game yang solid dan pengembalian tarif impor dari Amerika Serikat. Pada periode April hingga Juni, laba bersih perusahaan mencapai 147,4 miliar yen (sekitar US$930 juta), jauh melampaui perkiraan analis yang hanya 77,8 miliar yen berdasarkan survei Bloomberg.
Kinerja ini menjadi sinyal positif bagi raksasa game asal Jepang tersebut di tengah perlambatan penjualan konsol Switch 2 yang mulai memasuki tahun kedua peluncurannya. Meski demikian, Nintendo tetap optimistis dengan strategi jangka panjangnya, termasuk merilis ulang game klasik dan memanfaatkan kekayaan intelektual ikoniknya.
Dua judul game simulasi kehidupan, Tomodachi Life: Living the Dream dan Pokemon Pokopia, menjadi bintang utama dengan total penjualan mendekati 8 juta kopi. Keduanya menawarkan gameplay yang menenangkan, yang oleh banyak pengamat disebut sebagai pelarian dari stres kehidupan modern. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pasar game tidak hanya didominasi oleh genre aksi atau kompetitif, tetapi juga game santai yang menghibur.
Di sisi lain, penjualan unit Switch 2 mengalami penurunan. Nintendo mencatat penurunan penjualan platform game khusus sebesar 13,1 persen secara tahunan, terutama karena melemahnya permintaan konsol. Perusahaan menargetkan penjualan 16,5 juta unit Switch 2 pada tahun fiskal 2026-2027, turun sekitar 17 persen dari tahun sebelumnya. Untuk mengatasi tekanan biaya, Nintendo telah menaikkan harga konsol sejak Mei lalu, menyusul melonjaknya harga chip memori akibat ledakan kecerdasan buatan (AI).
Kenaikan laba juga ditopang oleh pengembalian tarif AS yang diterima Nintendo. Perusahaan menyebut faktor ini sebagai salah satu pendorong utama, selain penjualan software yang solid. Namun, para analis dari UBS mengingatkan bahwa belum ada judul blockbuster yang mampu mendorong adopsi Switch 2 secara signifikan. Mereka memperkirakan konten eksklusif baru akan lebih berdampak mulai 2027, dengan remake The Legend of Zelda: Ocarina of Time yang dijadwalkan rilis pada 2026 menjadi salah satu daya tarik utama.
Bagi pasar Indonesia, kabar ini menarik karena Nintendo Switch 2 telah menjadi salah satu konsol yang paling dinantikan di Tanah Air. Meski tidak ada data resmi penjualan regional, komunitas gamer Indonesia cukup aktif, dan kehadiran game simulasi kehidupan seperti Tomodachi Life sering kali mendapatkan sambutan hangat. Selain itu, kesuksesan film Super Mario Galaxy Movie yang telah menjadi film terlaris keempat dunia tahun ini, juga berpotensi meningkatkan popularitas karakter Nintendo di kalangan masyarakat Indonesia, terutama generasi muda.
Nintendo juga mengumumkan akan meremake The Legend of Zelda: Ocarina of Time, game yang dianggap sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa dengan skor 99 persen di Metacritic. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menarik gamer lama sekaligus memperkenalkan warisan Nintendo kepada generasi baru. Namun, seperti diungkapkan analis UBS, tanpa judul blockbuster baru yang kuat, pertumbuhan adopsi Switch 2 mungkin baru terasa signifikan pada 2027.
Dengan mempertahankan proyeksi laba tahunan sebesar 310 miliar yen, Nintendo tampaknya mengandalkan strategi diversifikasi konten dan ekspansi ke media lain seperti film. Pertanyaannya, mampukah Nintendo menjaga momentum ini di tengah persaingan ketat dari pemain lain seperti Sony dan Microsoft, serta perubahan preferensi gamer yang semakin beralih ke game mobile? Keputusan Nintendo untuk fokus pada game santai dan waralaba klasik bisa menjadi kunci, tetapi juga berisiko jika tidak diimbangi inovasi yang lebih berani.



