Amanda Barrie: 'Coronation Street' Kini Lebih Mirip Misteri Pembunuhan daripada Sinetron Kehidupan
Baca dalam 60 detik
- Aktris legendaris Amanda Barrie mengkritik perubahan alur 'Coronation Street' yang terlalu fokus pada plot pembunuhan demi sensasi.
- Menurut Barrie, sinetron tersebut kehilangan esensi kehidupan kelas pekerja yang menjadi daya tarik utamanya.
- Komentar ini memicu diskusi tentang arah kreatif sinetron Inggris di tengah persaingan dengan platform streaming.

Amanda Barrie, aktris yang namanya melekat lewat peran Alma Baldwin di sinetron legendaris Inggris Coronation Street, melontarkan kritik pedas terhadap arah kreatif acara yang membesarkan namanya itu. Di usia 90 tahun, ia menilai sinetron yang tayang sejak 1960-an itu kini lebih mirip drama kriminal ala Midsomer Murders ketimbang sinetron yang mengangkat keseharian warga kelas pekerja di kawasan utara Inggris.
Barrie, yang membintangi Coronation Street dari 1988 hingga 2001, mengaku masih setia menonton. Namun, ia menyayangkan banyaknya alur pembunuhan yang sengaja dirancang untuk mengejutkan penonton. Menurutnya, sinetron itu kehilangan akar cerita yang membuat penonton merasa betah dan ingin 'tinggal' di Weatherfield, kota fiksi tempat cerita berlatar.
Dalam wawancara dengan majalah Best of British, Barrie mengungkapkan, "Kami dulu punya orang-orang hebat di Corrie, dan sekarang pun masih. Masalahnya, mereka harus membuatnya lebih mirip Midsomer Murders versi utara, yang menyedihkan, karena dulu jalanan itu adalah tempat yang ingin ditinggali penonton dan bergabung dengan kami di Rovers." Dua tahun terakhir, penonton disuguhi pembunuhan remaja Mason yang ditikam kakaknya, serta misteri kematian Theo Silverton yang pelakunya akhirnya terungkap sebagai Sarah Platt.
Kritik Barrie muncul di tengah perdebatan panjang tentang masa depan sinetron Inggris yang harus bersaing dengan platform streaming. Coronation Street sendiri masih memproduksi lima episode per minggu, sebuah ritme yang menurut Barrie sangat berat bagi para pemain muda. Ia justru memuji dedikasi para aktor muda yang tampil meyakinkan tanpa pernah merasakan proses latihan seperti di era sebelumnya. "Saya masih menikmatinya dan saya kagum dengan penampilan mereka sekarang, terutama dari anak-anak muda yang tidak pernah tahu rasanya latihan," ujarnya.
Kritik Barrie juga menyentuh soal kebebasan berekspresi di industri hiburan. Di usianya yang ke-90, ia mengaku tidak lagi khawatir terhadap ancaman 'di-cancel' atau diboikot. "Orang-orang selalu bilang saya harus hati-hati bicara, jangan sampai di-cancel. Tapi saya sudah mengatakan yang sebenarnya dalam buku saya, dan itu penting. Saya berharap politikus kita lebih jujur, karena orang akan lebih memahami mereka jika begitu," katanya. Pernyataan ini sekaligus menegaskan sikapnya yang blak-blakan, sesuatu yang langka di tengah industri yang semakin hati-hati.
Bagi penonton di Indonesia, kritik Barrie mungkin terdengar asing, tetapi ada benang merah dengan perkembangan sinetron lokal. Banyak sinetron Indonesia yang juga kerap mengandalkan konflik berlebihan dan alur kejutan demi mengejar rating, alih-alih mengangkat cerita keseharian yang dekat dengan masyarakat. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah sinetron kita juga kehilangan jati dirinya di tengah gempuran konten digital? Atau justru penonton yang berubah selera?
Pertanyaan tentang arah kreatif Coronation Street ke depan masih menggantung. Barrie sendiri mengakui bahwa kritiknya mungkin menyinggung sebagian orang, tetapi sebagai sosok yang sudah malang melintang di dunia hiburan, ia memilih untuk tetap jujur. "Kalau Anda mengintip ke dalam kotak surat siapa pun, Anda mungkin akan sangat terkejut... dan itu bukan eufemisme, sayang," tutupnya. Akankah para produser mendengar kritik ini dan mengembalikan roh sinetron yang dulu? Atau justru semakin menjauh demi mengejar sensasi? Waktu yang akan menjawab.



