The Mummy Kembali Populer di Netflix, Brendan Fraser dan Rachel Weisz Siap Reuni di Film Keempat
Baca dalam 60 detik
- Film The Mummy (1999) menembus daftar 10 besar Netflix pekan ini, didorong oleh antusiasme menjelang sekuel keempat.
- Kepopuleran ulang ini menegaskan daya tarik nostalgia era 90-an dan potensi pasar besar bagi franchise lama.
- Dengan syuting The Mummy 4 yang sedang berjalan dan jadwal rilis 2027, Netflix dan bioskop bisa meraup untung dari kebangkitan minat ini.

Film petualangan klasik The Mummy (1999) tiba-tiba mencuat ke jajaran film terpopuler di Netflix pekan ini, bersamaan dengan beredarnya foto-foto dari lokasi syuting sekuel keempat yang telah lama dinanti. Menurut data FlixPatrol, film berusia 27 tahun itu berhasil masuk daftar 10 besar platform streaming tersebut, membuktikan bahwa pesona Brendan Fraser sebagai Rick O'Connell belum pudar.
Kebangkitan ini bukan tanpa alasan. Syuting The Mummy 4 tengah berlangsung dengan Fraser dan Rachel Weisz kembali memerankan karakter ikonik mereka. Weisz terakhir kali tampil sebagai Evelyn Carnahan pada The Mummy Returns (2001), sehingga reuni ini menjadi momen bersejarah setelah lebih dari dua dekade. Film baru dijadwalkan tayang di bioskop pada 15 Oktober 2027, dan diperkirakan akan mengabaikan peristiwa The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor (2008) yang tidak melibatkan Weisz.
Bagi industri hiburan, fenomena ini menunjukkan bagaimana konten lama dapat menghidupkan kembali waralaba yang sempat redup. Netflix, sebagai platform yang menayangkan film aslinya, diuntungkan oleh lonjakan penonton yang penasaran atau ingin bernostalgia. Sementara itu, studio di balik The Mummy 4 memanfaatkan momen ini untuk membangun ekspektasi pasar menjelang rilis dua tahun lagi. Pola ini mirip dengan strategi yang kerap dilakukan Disney atau Warner Bros., di mana perilisan ulang di streaming menjadi pemanasan sebelum sekuel tayang.
Di Indonesia, antusiasme terhadap film klasik juga tinggi. The Mummy sempat menjadi tontonan wajib di televisi nasional pada awal 2000-an, dan kini generasi baru dapat menyaksikannya secara legal di Netflix. Kebangkitan ini berpotensi mendorong platform streaming lokal untuk lebih agresif menawarkan konten katalog lama, terutama menjelang perilisan sekuel. Selain itu, kesuksesan The Mummy 4 nanti bisa menjadi indikator bagi pasar Asia Tenggara, apakah nostalgia era 90-an masih menjual di tengah gempuran konten baru.
"Kepopuleran ulang film lama di platform streaming sering kali menjadi sinyal positif bagi sekuelnya," ujar seorang analis industri hiburan yang enggan disebutkan namanya. "Ini menunjukkan bahwa basis penggemar masih solid dan siap menyambut cerita baru."
Dengan jadwal rilis yang masih dua tahun lagi, pertanyaannya adalah apakah momentum ini bisa dipertahankan. Netflix dan pihak studio tentu berharap antusiasme tidak surut, sementara penonton menantikan apakah The Mummy 4 mampu menyatukan kembali pesona klasik dengan tuntutan pasar modern. Jika berhasil, bukan tidak mungkin waralaba ini akan kembali menjadi primadona di box office global, termasuk di Indonesia.



