Larangan Plastik Menguntungkan Emiten Kemasan Kertas, PPRI Catat Kenaikan Penjualan
Baca dalam 60 detik
- Paperocks (PPRI) membukukan penjualan Rp154,8 miliar pada 2025, naik 4,9% berkat kebijakan diversifikasi kemasan ramah lingkungan.
- Kenaikan harga plastik akibat gangguan rantai pasok global mendorong peralihan ke kemasan kertas, menguntungkan produsen seperti PPRI.
- PPRI menargetkan penjualan kuartal II 2026 sebesar Rp80,53 miliar, didorong ekspansi pasar dan inovasi produk ramah lingkungan.

PT Paperocks Indonesia Tbk. (PPRI) menikmati berkah dari kebijakan pemerintah yang mendorong pengurangan penggunaan plastik. Emiten produsen kemasan kertas ini mencatatkan penjualan Rp154,8 miliar sepanjang 2025, tumbuh 4,9% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp147,6 miliar. Laba kotor pun ikut terdongkrak menjadi Rp23,7 miliar.
Direktur Utama Paperocks, Irsyad Hanif, mengaitkan lonjakan kinerja tersebut dengan program diversifikasi kemasan ke bahan ramah lingkungan yang digalakkan pemerintah. “Kenaikan penjualan ini tidak terlepas dari program pemerintah yang melakukan diversifikasi ke bahan baku kemasan ramah lingkungan. Terlebih belakangan harga plastik melambung tinggi karena adanya gangguan rantai pasok global,” ujarnya di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Fenomena ini menjadi angin segar bagi industri kemasan kertas di tengah tekanan biaya bahan baku plastik yang meroket. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, porsi kemasan kertas saat ini baru mencapai 28% dari total industri kemasan nasional, sementara kemasan plastik fleksibel masih mendominasi dengan 48%. Artinya, masih ada ruang besar bagi PPRI untuk mengerek pangsa pasar seiring dengan pergeseran preferensi industri.
Paperocks optimistis tren positif ini berlanjut. Untuk kuartal II 2026, perseroan memproyeksikan penjualan mencapai Rp80,53 miliar, naik 2,7% secara tahunan. Laba kotor ditargetkan Rp12,88 miliar, tumbuh 6,01%, sementara laba tahun berjalan diperkirakan Rp1,89 miliar, naik 5,07%. Target ini akan dicapai melalui inovasi produk ramah lingkungan dan agresivitas dalam menjangkau pasar baru.
Irsyad menambahkan, pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) yang mencapai 6,49%—lebih tinggi dari pertumbuhan industri pengolahan non-migas sebesar 5,58%—menjadi pendorong utama permintaan kemasan kertas. “Industri makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena didukung oleh sumber daya alam dan permintaan domestik yang terus meningkat,” katanya.
Bagi investor, saham PPRI menjadi salah satu yang patut dicermati di tengah tren global menuju ekonomi hijau. Kebijakan pemerintah yang konsisten mendorong pengurangan plastik, ditambah dengan kenaikan harga plastik akibat gangguan pasokan, memberikan keunggulan kompetitif bagi produsen kemasan kertas. Namun, tantangan tetap ada, seperti fluktuasi harga bahan baku kertas dan persaingan dari pemain lain yang juga mulai beralih ke kemasan ramah lingkungan.
Ke depan, Paperocks berencana meningkatkan persentase penggunaan bahan ramah lingkungan pada seluruh lini produk. Dengan fokus pada kemasan berbasis kertas yang merupakan sumber daya terbarukan, perseroan berharap dapat memperkuat posisinya sebagai pemain utama di segmen kemasan berkelanjutan. Pertanyaannya, mampukah PPRI mempertahankan laju pertumbuhan di tengah potensi masuknya pesaing baru yang juga mengincar pasar serupa?



