Pasar Asia Melonjak di Tengah Sinyal Damai Iran-AS, Minyak Terkoreksi
Baca dalam 60 detik
- Negosiasi Iran-AS menunjukkan kemajuan, meredakan kekhawatiran eskalasi konflik dan mendorong reli bursa Asia.
- Harga minyak mentah Brent turun ke $80 per barel setelah sempat menyentuh puncak $126 pada Mei, mencerminkan meredanya ketegangan geopolitik.
- Sikap hawkish Federal Reserve meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, memberi tekanan pada imbal hasil obligasi dan dolar AS.

Bursa saham Asia bergerak naik pada Senin (22/6) setelah Iran mengindikasikan kemajuan dalam perundingan damai dengan Amerika Serikat, meredakan ketegangan yang sempat memicu kekhawatiran pasar global. Indeks Nikkei Jepang melesat 1,9 persen, sementara Kospi Korea Selatan melonjak 2,6 persen, memperpanjang reli pekan lalu yang mencapai rekor tertinggi.
Kemajuan negosiasi tersebut diumumkan oleh pejabat Qatar dan Pakistan yang menyatakan bahwa putaran pertama pembicaraan telah menghasilkan peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengancam akan melancarkan serangan baru ke Iran, sementara Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan pejabat Iran dalam pembicaraan pertama berdasarkan kesepakatan damai sementara.
Namun, proses perundingan sempat dibayangi oleh pengumuman Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz. Data pelacakan menunjukkan jumlah kapal yang melintas menurun drastis, dari 32 kapal pada Jumat menjadi hanya 26 kapal pada Sabtu. Kondisi ini sempat mendorong harga minyak mentah Brent bertahan di level tinggi sebelum akhirnya terkoreksi.
Brent crude futures turun 0,4 persen menjadi $80,17 per barel, jauh dari puncak Mei di $126,41. Sementara itu, minyak mentah AS masih menguat 1,2 persen ke $77,52 per barel. Penurunan harga minyak ini menjadi angin segar bagi negara importir minyak seperti Indonesia, yang selama ini terbebani oleh tingginya biaya energi.
Di sisi lain, sikap hawkish Federal Reserve pekan lalu terus membayangi pasar obligasi. Pasar memperkirakan pengetatan kebijakan moneter sebesar 38 basis poin hingga akhir tahun, dengan imbal hasil surat utang AS tenor 2 tahun naik 4 basis poin ke level tertinggi sejak awal 2025. Data inflasi inti yang menjadi acuan The Fed akan dirilis pada Kamis dan diperkirakan naik tipis ke 3,4 persen pada Mei, memperkuat risiko pengetatan kebijakan.
Menurut Fabio Bassi, kepala strategi cross-asset JPMorgan, bank sentral kemungkinan akan bersabar dengan kenaikan suku bunga pertama pada paruh kedua 2027, namun risiko kenaikan lebih awal tetap ada. "Kami tetap konstruktif terhadap aset berisiko karena perbaikan pasar tenaga kerja akan menjaga suku bunga tetap tinggi, mendukung kepemimpinan sempit di saham Quality Growth, Large Cap, dan Teknologi," ujarnya. Bassi memperkirakan target S&P 500 berpotensi mencapai 8.000.
Dolar AS tetap perkasa di level 161,48 yen, mendekati resistensi 161,96 yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan 2024. Intervensi Jepang menjadi satu-satunya ancaman yang mencegah penguatan lebih lanjut. Euro melemah ke $1,1464 setelah menyentuh level terendah tiga bulan pada Jumat di $1,1418. Sementara sterling tertekan oleh ketidakpastian politik di Inggris, di mana Perdana Menteri Keir Starmer dikabarkan mempertimbangkan masa depannya setelah kemenangan telak saingannya Andy Burnham dalam pemilihan parlemen.
Konteks Indonesia: Reli pasar Asia dan penurunan harga minyak memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Namun, sikap hawkish The Fed tetap menjadi risiko bagi arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia. Investor akan mencermati data inflasi AS pekan ini sebagai sinyal arah kebijakan moneter global.
Di pasar komoditas, berita kemajuan perundingan damai mendorong harga emas naik 1,1 persen menjadi $4.205 per ons. Logam mulia ini tetap menjadi safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan prospek suku bunga yang masih belum jelas. Pertanyaannya, akankah momentum damai ini bertahan cukup lama untuk mengubah lanskap risiko global secara fundamental?



