Gibran Janjikan Replikasi Sekolah Lapang Sagu Asmat ke Seluruh Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau Sekolah Lapang Sagu di Asmat, Papua Selatan, dan berkomitmen mereplikasi model ketahanan pangan berbasis komoditas lokal ke daerah lain.
- Program seluas enam hektare ini dikelola Keuskupan Agats bersama pemerintah daerah, memadukan kearifan lokal Suku Asmat dengan pemberdayaan ekonomi.
- Langkah ini dinilai strategis memperkuat kemandirian pangan nasional, terutama di tengah desakan diversifikasi pangan non-beras.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming memastikan pemerintah akan memperluas model Sekolah Lapang Sagu yang berhasil di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, ke berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan berbasis komoditas lokal.
Dalam kunjungan kerja ke Distrik Agats pada Minggu, 21 Juni 2026, Gibran menyaksikan langsung proses produksi sagu tradisional oleh masyarakat adat Suku Asmat. Ia menilai program yang berjalan di lahan seluas enam hektare itu layak menjadi percontohan nasional. "Ini tugas pemerintah untuk mengamplifikasi dan mungkin kita replikasi di daerah-daerah lain," ujarnya.
Sekolah Lapang Sagu Asmat bukan sekadar pusat budi daya. Dikelola melalui kerja sama antara Keuskupan Agats dan pemerintah daerah, tempat ini mengintegrasikan nilai budaya lokal dengan pemberdayaan ekonomi. Gibran menekankan pentingnya kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan agama agar implementasi program berjalan optimal.
Momen kunjungan ini bertepatan dengan pembukaan Pekan Nasional Petani Nelayan (Penas) XVII di Gorontalo sehari sebelumnya. Gibran mengaitkan urgensi kemandirian pangan dengan potensi besar komoditas lokal seperti sagu. Menurutnya, upaya penguatan pangan lokal di Papua telah berlangsung lama, didorong tidak hanya oleh birokrasi tetapi juga organisasi akar rumput, termasuk gereja.
Bagi Indonesia, replikasi program ini membawa implikasi signifikan. Sagu merupakan bahan pangan pokok bagi masyarakat Papua dan Maluku, namun potensinya sebagai sumber karbohidrat alternatif nasional belum tergarap maksimal. Dengan model Sekolah Lapang Sagu, pemerintah berharap dapat mendorong diversifikasi pangan, mengurangi ketergantungan pada beras, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
"Hari ini kita melihat proses di Sekolah Lapang Sagu, saya kira ini sangat baik sekali dan harus didukung," kata Gibran, seperti dikutip dari Antara.
Selain memantau ketahanan pangan, Gibran juga membagikan peralatan sekolah kepada anak-anak di sekitar lokasi. Langkah ini menegaskan bahwa program tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pendidikan generasi muda.
Ke depan, tantangan utama adalah memastikan replikasi program tetap mempertahankan pendekatan berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat. Apakah model Asmat bisa diadaptasi di daerah lain tanpa kehilangan esensi lokalnya? Pertanyaan ini akan menjadi ujian bagi komitmen pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan.



