Wisata ke Jepang Disetop Lagi: Agensi Pelat Merah China Hentikan Penjualan Paket Tur
Baca dalam 60 detik
- Biro perjalanan milik BUMN China tiba-tiba menghentikan penjualan paket wisata grup ke Jepang yang baru dibuka, diduga karena tekanan pemerintah.
- Langkah ini terjadi setelah Perdana Menteri Jepang menyampaikan pernyataan terkait Taiwan yang memicu ketegangan diplomatik.
- Kunjungan wisatawan China ke Jepang anjlok 56,2% pada Januari-Mei tahun ini dibanding periode sama tahun lalu.

Sehari setelah membuka kembali pemesanan tur grup ke Jepang, sebuah agen perjalanan milik perusahaan pelat merah China tiba-tiba menghentikan penjualan. Langkah ini diduga kuat merupakan respons terhadap tekanan dari pemerintah China yang masih sensitif dengan isu Taiwan.
Biro perjalanan yang berafiliasi dengan China Tourism Group Corp. itu sebelumnya menawarkan paket tur tujuh hari ke Tokyo, Osaka, dan sejumlah kota lain selama liburan musim panas Juli-Agustus. Namun, pada Sabtu (20/6) situs web perusahaan mendadak menampilkan status 'ditangguhkan' untuk produk tersebut. Seorang pejabat agensi mengonfirmasi pada Jumat (19/6) bahwa sudah ada beberapa kelompok yang mendaftar, tetapi pembatalan massal kemungkinan besar terjadi.
Keputusan ini muncul setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu menyampaikan pernyataan di parlemen mengenai kemungkinan kontingensi Taiwan. Beijing langsung bereaksi dengan meminta warganya menunda perjalanan ke Jepang. Imbauan itu memicu gelombang pembatalan tur grup dan penangguhan layanan serupa sebelumnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat betapa rentannya sektor pariwisata terhadap gesekan geopolitik. Jepang selama ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan China, dan pembatasan mendadak seperti ini bisa mengalihkan arus wisatawan ke negara lain, termasuk Indonesia. Namun, jika ketegangan berlanjut, justru Indonesia berpotensi menjadi alternatif destinasi bagi turis China yang mencari tempat aman dan netral.
Menurut pengamat pariwisata dari Universitas Indonesia, langkah China ini menunjukkan bahwa keputusan bisnis di negara tersebut tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik. "Ini sinyal kuat bahwa perusahaan pelat merah akan selalu mengikuti arahan pemerintah, meskipun harus mengorbankan keuntungan jangka pendek," ujarnya. Data dari Japan National Tourism Organisation menunjukkan bahwa jumlah pengunjung China ke Jepang dari Januari hingga Mei turun drastis 56,2% dibanding tahun lalu.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah agen perjalanan China lainnya akan mengikuti langkah serupa, atau justru akan ada normalisasi hubungan setelah ketegangan mereda. Bagi pelaku industri pariwisata di Asia Tenggara, situasi ini membuka peluang sekaligus risiko yang perlu diantisipasi.



