Kisah Aziz Ahmed: Anak Imigran yang Menjadi 'Ayah' bagi Keluarganya di Jepang
Baca dalam 60 detik
- Aziz Ahmed, pemuda asal Pakistan di Jepang, mengaku sempat dipanggil 'ayah' oleh petugas rumah sakit karena sering mendampingi keluarganya yang membutuhkan penerjemahan.
- Pengalaman pribadinya sebagai 'young carer' bahasa mendorongnya mendirikan NPO Tomoni Kurasu untuk mendukung anak-anak imigran dengan beban serupa.
- Fenomena ini menyoroti kebutuhan akan dukungan psikososial bagi anak-anak yang menjadi penopang komunikasi keluarga imigran, relevan dengan konteks Indonesia yang memiliki banyak TKI di luar negeri.

Seorang pemuda asal Pakistan yang tumbuh di Jepang, Aziz Ahmed (27), mengubah pengalaman pahit masa kecilnya menjadi gerakan sosial. Sejak duduk di bangku SMP, ia kerap disangka ayah dari adik-adiknya saat menemani ibunya ke rumah sakit. Padahal, ia masih anak-anak yang harus memikul tanggung jawab orang dewasa sebagai penerjemah bagi keluarganya yang tidak fasih berbahasa Jepang.
Ahmed tiba di Jepang pada 2008 bersama ibu dan adik perempuannya, menyusul ayahnya yang bekerja di sektor manufaktur di Prefektur Gunma. Meski cemerlang secara akademis di Pakistan, ia mendapati dirinya tertinggal di sekolah karena kendala bahasa. Namun, dalam beberapa tahun, ia justru menjadi penutur bahasa Jepang terbaik di keluarganya, melampaui ayahnya yang telah tinggal di Jepang lebih dari dua dekade.
Kemampuan bahasa itu kemudian menyeretnya ke peran yang tidak biasa: menjadi juru bicara keluarga untuk urusan rumah sakit, sekolah, kontrak ponsel, hingga prosedur pemerintah. Saat kelas enam SD, ia membantu pembaruan status residensi keluarga. Ketika menelepon kantor pemerintah, petugas menolak melayaninya karena ia masih anak-anak. Kejadian itu menanamkan kesadaran bahwa keluarganya akan kesulitan tanpa bantuannya.
Beban itu kian terasa saat ia duduk di bangku SMP. Petugas rumah sakit kerap memanggilnya 'Ayah, silakan lewat sini' karena penampilannya yang matang. Ia bahkan ikut serta dalam negosiasi pembelian rumah saat SMA, mendampingi orang tuanya berdiskusi dengan pengembang dan notaris. Baru saat kuliah, ia menyadari bahwa peran yang dijalaninya bukanlah hal yang lazim bagi anak seusianya.
Istilah 'young carer' atau anak yang mengurus keluarga menjadi titik balik baginya. Pemerintah Jepang saat itu tengah mengkaji dukungan untuk anak-anak yang melakukan pekerjaan rumah tangga, perawatan, dan penerjemahan. "Saya pikir, 'Itulah saya'," kenang Ahmed. Kesadaran itu mendorongnya mendirikan organisasi nirlaba 'Tomoni Kurasu' (Hidup Bersama) di Maebashi pada 2023, yang kini membantu anak-anak imigran dalam berbagai bahasa.
Kisah Ahmed bukan sekadar pengalaman personal. Ia mengungkap beban psikologis berat yang ditanggung anak-anak imigran. Beberapa di antaranya harus menyampaikan kabar kematian anggota keluarga dari dokter, atau berhadapan dengan penagih utang. "Ini menimbulkan tekanan mental yang tidak sesuai usia mereka," tegasnya. Fenomena ini juga relevan bagi Indonesia, mengingat banyaknya pekerja migran Indonesia yang meninggalkan anak-anak mereka di kampung halaman, yang kerap harus menjadi penghubung komunikasi dengan orang tua di luar negeri.
Ahmed kini menjalankan dua peran: sebagai direktur NPO dan kepala perusahaan produksi video. Motivasi utamanya sederhana: "Saya ingin menjadi orang dewasa yang saya butuhkan saat kecil." Ia berharap tidak ada anak yang merasa sendirian seperti dirinya dulu. Namun, pertanyaan besarnya: apakah masyarakat, terutama di negara dengan mobilitas tinggi seperti Indonesia, siap memberikan dukungan yang layak bagi 'young carer' yang tersembunyi ini?



