Chime Naikkan Proyeksi Pendapatan 2026, Bos Keuangan Mundur di Tengah Ekspansi
Baca dalam 60 detik
- Chime merevisi target pertumbuhan pendapatan tahun depan menjadi 25-26%, melampaui konsensus analis.
- CFO Matt Newcomb akan mengundurkan diri setelah satu dekade, digantikan sementara oleh presiden perusahaan.
- Lonjakan anggota aktif dan pendapatan per pengguna menegaskan daya tarik model perbankan digital bagi konsumen AS.

Perusahaan teknologi finansial Chime mengerek proyeksi pertumbuhan pendapatan tahun 2026 di atas perkiraan pasar, di tengah permintaan yang kuat untuk produk perbankan digitalnya. Kabar ini sekaligus diiringi pengumuman mundurnya direktur keuangan (CFO) yang telah menjabat lama, Matt Newcomb, pekan ini.
Langkah Chime ini mencerminkan momentum positif yang dinikmati para pemain fintech di Amerika Serikat, yang berhasil menarik generasi muda lewat layanan berbasis ponsel dan terus melebarkan sayap ke layanan keuangan baru seperti investasi. Ketahanan konsumen AS turut menjadi bahan bakar, menjaga volume transaksi dan aktivitas nasabah tetap tinggi. Pada kuartal kedua, pendapatan dari pembayaran, termasuk transfer instan keluar, naik 21 persen.
โKami terus melihat tanda-tanda konsumen yang sehat,โ ujar CEO Chris Britt, merujuk pada ketahanan di berbagai segmen pendapatan, baik untuk pengeluaran diskresioner maupun non-diskresioner. Optimisme ini kemudian diterjemahkan menjadi target pendapatan 2026 yang lebih tinggi, yaitu tumbuh 25 hingga 26 persen, sementara analis yang disurvei LSEG hanya memperkirakan 22,7 persen.
Untuk kuartal berjalan, Chime memproyeksikan pendapatan antara 680 juta hingga 690 juta dolar AS, melampaui estimasi pasar yang berada di angka 668,1 juta dolar. Kinerja solid ini juga tercermin dari pendapatan kuartal kedua yang mencapai 670 juta dolar, naik 27 persen secara tahunan dan mengalahkan ekspektasi analis. Perusahaan bahkan mencatat laba bersih 28 juta dolar, menandai kuartal kedua berturut-turut yang menguntungkan.
Di sisi lain, kepergian Newcomb menandai akhir dari era kepemimpinan yang membawa Chime melantai di bursa pada Juni 2025. Setelah lebih dari satu dekade mengabdi, ia akan digantikan sementara oleh presiden perusahaan, Mark Troughton. Pergantian ini terjadi di tengah upaya Chime memperluas basis pengguna, yang kini mencapai 10,4 juta anggota aktif, naik 20 persen dibanding tahun lalu. Pendapatan rata-rata per anggota juga meningkat 6 persen menjadi 260 dolar.
Chime selama ini menyasar warga Amerika kelas menengah ke bawah yang memiliki riwayat kredit terbatas dan lebih mengandalkan kartu debit. Tahun ini, perusahaan meluncurkan jenjang keanggotaan berbayar dan layanan investasi. Segmen dengan pendapatan tahunan di atas 75.000 dolar menjadi yang paling cepat tumbuh, didorong oleh produk unggulan Chime Prime.
Meski kinerja keuangan moncer, Chime pekan lalu mengumumkan pemangkasan 10 persen tenaga kerja, sejalan dengan tren efisiensi berbasis kecerdasan buatan yang melanda industri teknologi. Langkah ini menunjukkan bahwa pertumbuhan dan penghematan biaya bisa berjalan beriringan, meski menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap inovasi jangka panjang.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan Chime menjadi cermin bagaimana fintech dapat memanfaatkan data dan personalisasi untuk menembus segmen yang kurang terlayani. Dengan penetrasi smartphone yang tinggi dan populasi muda yang besar, model bisnis serupa berpotensi diterapkan oleh pemain lokal, terutama dalam menyasar masyarakat yang belum memiliki rekening bank atau riwayat kredit formal. Namun, regulasi dan infrastruktur pembayaran yang berbeda menjadi tantangan tersendiri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Chime mampu mempertahankan pertumbuhan saat basis penggunanya semakin besar dan persaingan dari bank tradisional maupun fintech lain semakin ketat. Keputusan strategis seperti ekspansi ke layanan investasi dan efisiensi operasional akan menjadi penentu. Dengan proyeksi yang dinaikkan, Chime tampaknya optimistis, tetapi tekanan untuk membuktikan keberlanjutan profitabilitas tetap mengintai.



