Gibran Tanam Bibit Kakao Unggulan di Papua Barat, Akselerasi Rehabilitasi 2.000 Hektare Lahan Perkebunan
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menanam bibit kakao varietas unggul di Manokwari Selatan sebagai simbol dimulainya program rehabilitasi perkebunan kakao nasional seluas 2.000 hektare.
- Program ini mengusung sistem agroforestri dinamis dengan alokasi 1.200 hektare lahan kakao dan 800 hektare kawasan konservasi, melibatkan 88-90% tenaga kerja dari masyarakat adat Papua.
- Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah menjadikan Indonesia pemain utama kakao dunia melalui peningkatan produktivitas, kualitas, dan keberlanjutan lingkungan.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menanam bibit kakao klon Trinitario varietas unggulan di lahan PT Ebier Suth Cokran, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, Sabtu (20/6), menandai dimulainya program rehabilitasi perkebunan kakao nasional yang menargetkan pengelolaan 2.000 hektare lahan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat posisi Papua Barat sebagai salah satu sentra kakao nasional. Direktur Manajemen Pemasaran dan Komunikasi PT Ebier Suth Cokran, Febri Sumbung, menyatakan bahwa kunjungan Wapres menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendorong industri kakao yang produktif dan berkelanjutan. Menurut Febri, Gibran menekankan pentingnya peningkatan produktivitas, kualitas, hilirisasi, serta pengelolaan kebun yang ramah lingkungan agar Indonesia mampu bersaing di pasar global.
Program rehabilitasi ini tidak hanya berfokus pada perluasan areal tanam, tetapi juga pada aspek keberlanjutan. Wapres memberikan perhatian khusus pada penerapan sistem agroforestri dinamis dan penanaman pohon naungan, serta penguatan kapasitas petani. Langkah ini dinilai krusial mengingat pasar global semakin menuntut ketertelusuran produk dan praktik ramah lingkungan.
Penanaman dilakukan secara serentak bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, Bupati Manokwari Selatan Bernard Mandacan, serta perwakilan mahasiswa. Bibit yang ditanam merupakan kakao klon Trinitario varietas unggulan yang dikenal memiliki produktivitas tinggi dan ketahanan terhadap hama. Prosesi ini menjadi simbol percepatan program rehabilitasi kebun kakao Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2026.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki implikasi strategis. Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor, namun produktivitas perkebunan rakyat masih rendah. Dengan pendekatan agroforestri dan keterlibatan masyarakat adat, program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Papua Barat, dengan potensi lahan yang luas, diproyeksikan menjadi lumbung kakao nasional yang berkelanjutan.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan keberlanjutan program setelah masa tanam. Penguatan kapasitas petani, akses pasar, dan pendampingan teknis menjadi kunci agar target Indonesia menjadi pemain utama kakao dunia dapat terwujud. Pertanyaannya, mampukah pemerintah menjaga momentum ini di tengah dinamika politik dan anggaran?



