Waspada Hoaks Bermodus Demo dan Bencana: Tiga Narasi Palsu yang Viral di Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Sebuah video yang diklaim sebagai aksi demo mahasiswa UI di depan DPR pada Juni 2026 ternyata merupakan rekaman lama yang tidak terkait dengan peristiwa tersebut.
- Informasi tentang peringatan Squall Line oleh BMKG yang beredar luas di media sosial adalah palsu; BMKG tidak pernah mengeluarkan peringatan semacam itu untuk malam tahun baru.
- Video yang menggambarkan warga terjebak banjir di dalam bus di Jakarta Selatan juga teridentifikasi sebagai hoaks, karena peristiwa tersebut tidak pernah terjadi.

Jakarta, ibu kota yang menjadi pusat perhatian nasional, kembali menjadi sasaran empuk penyebaran informasi palsu. Dalam sepekan terakhir, setidaknya tiga hoaks bertema peristiwa di Jakarta berhasil diidentifikasi oleh tim pemeriksa fakta. Mulai dari demo mahasiswa hingga bencana alam, semua dikemas dengan narasi yang tampak meyakinkan, bahkan ada yang menggunakan hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI).
Hoaks pertama menyeruak di platform Facebook pada 12 Juni 2026, berupa video yang diklaim sebagai situasi demo mahasiswa Universitas Indonesia di depan Gedung DPR. Rekaman itu memperlihatkan kerumunan orang di lapangan terbuka dengan latar bangunan bertuliskan "ABSOLUTFIT", kepulan asap hitam, dan dua mobil merah melaju. Unggahan tersebut disertai ajakan dukungan untuk aktivis BEM UI. Namun, setelah ditelusuri, video tersebut bukanlah rekaman aksi Juni 2026, melainkan cuplikan peristiwa lama yang tidak terkait. Narasi yang dibangun sengaja memanfaatkan momen kegaduhan politik untuk memicu emosi publik.
Hoaks kedua datang dalam bentuk peringatan cuaca ekstrem. Sebuah unggahan Facebook pada 29 Desember 2025 mengklaim BMKG mengeluarkan peringatan dini fenomena Squall Line—garis badai memanjang—yang akan melanda Jakarta pada malam tahun baru. Teks yang beredar panjang lebar menjelaskan potensi hujan lebat, angin kencang, dan banjir kilat, serta mengimbau masyarakat untuk bersiap. Padahal, BMKG tidak pernah merilis peringatan semacam itu. Informasi ini sengaja dirancang untuk menimbulkan kepanikan di tengah perayaan pergantian tahun, apalagi istilah Squall Line tengah menjadi topik hangat di mesin pencari.
Hoaks ketiga berupa video yang diunggah di YouTube pada 22 Januari 2026, memperlihatkan sejumlah orang di dalam bus dengan genangan air di lantai. Video itu diklaim sebagai momen warga terjebak banjir di Jakarta Selatan. Namun, verifikasi menunjukkan bahwa peristiwa tersebut tidak pernah terjadi pada waktu dan lokasi yang disebutkan. Rekaman itu kemungkinan besar merupakan hasil editan atau pengambilan gambar dari kejadian lain yang tidak ada kaitannya dengan Jakarta.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hoaks tidak hanya menyasar isu politik, tetapi juga memanfaatkan kekhawatiran publik terhadap bencana alam. Bagi warga Jakarta yang setiap tahun menghadapi ancaman banjir dan cuaca ekstrem, informasi palsu seperti peringatan Squall Line bisa memicu tindakan yang tidak perlu, bahkan merugikan. Sementara itu, hoaks demo mahasiswa berpotensi memperkeruh suasana politik yang sudah panas. Tim pemeriksa fakta mengingatkan agar masyarakat selalu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, terutama yang berasal dari akun tidak resmi.
Ke depan, tantangan literasi digital semakin berat seiring dengan makin canggihnya alat manipulasi seperti AI. Pertanyaan yang muncul: apakah masyarakat sudah cukup tangguh untuk membedakan fakta dan rekayasa di tengah derasnya arus informasi? Atau akankah hoaks terus menjadi senjata ampuh untuk memecah belah dan menciptakan keresahan?



