Tonali Hengkang dari Newcastle? AC Milan Kebagian Jatah Solidaritas FIFA
Baca dalam 60 detik
- Tottenham, Manchester City, dan klub Premier League lain dikabarkan memburu Sandro Tonali yang terancam tanpa sepak bola Eropa bersama Newcastle.
- Meski tak menyertakan klausul penjualan kembali, AC Milan tetap berhak atas kompensasi solidaritas FIFA sebesar 5% dari biaya transfer.
- Milan diperkirakan meraup β¬1-1,8 juta dari skema solidaritas jika Tonali pindah musim panas ini, bergantung pada nilai transfer akhir.

Gelandang tim nasional Italia, Sandro Tonali, kembali menjadi sorotan bursa transfer musim panas ini setelah sejumlah klub papan atas Premier League seperti Tottenham Hotspur dan Manchester City dikabarkan mengincarnya. Namun, di tengah hiruk-pikuk potensi kepergiannya dari Newcastle United, ada satu pihak yang tetap diuntungkan: AC Milan, klub yang melepasnya tiga tahun lalu.
Tottenham disebut telah mengajukan tawaran awal untuk Tonali, meskipun ditolak oleh Newcastle. Beberapa sumber menyebut nilai tawaran tersebut berkisar antara β¬86 juta hingga β¬92 juta. Selain Spurs, Manchester City, Manchester United, dan Arsenal juga dikaitkan dengan pemain berusia 24 tahun itu. Situasi ini menjadi krusial karena Newcastle dipastikan tidak akan tampil di kompetisi Eropa musim depan, membuat Tonali mungkin mencari tantangan baru.
AC Milan melepas Tonali ke Newcastle pada musim panas 2023 dengan nilai transfer sekitar β¬70 juta termasuk bonus. Menurut laporan Calciomercato.com, dalam kesepakatan tersebut, Milan tidak menyertakan klausul penjualan kembali (sell-on clause). Namun, bukan berarti mereka tidak mendapat apa-apa jika Tonali hengkang.
FIFA mewajibkan adanya kontribusi solidaritas (solidarity contribution) sebesar 5% dari biaya transfer pemain yang pindah ke klub asing sebelum kontraknya berakhir. Dana ini dialokasikan kepada klub-klub yang melatih pemain tersebut antara usia 12 hingga 23 tahun. Dalam kasus Tonali, tiga klub berhak atas bagian tersebut: Piacenza, Brescia, dan AC Milan. Artinya, Milan akan menerima sebagian dari 5% tersebut, diperkirakan antara β¬1 juta hingga β¬1,8 juta, tergantung nilai transfer akhir.
Bagi pengamat sepak bola Italia, skenario ini menunjukkan betapa pentingnya mekanisme solidaritas FIFA bagi klub-klub yang kerap kehilangan pemain bintangnya. Meski nominal yang diterima Milan relatif kecil dibandingkan keuntungan awal dari penjualan Tonali, dana tersebut tetap menjadi pemasukan tambahan yang tidak direncanakan. Apalagi, Milan saat ini tengah berupaya memperkuat skuad mereka untuk bersaing di Serie A dan Liga Champions.
Di sisi lain, Tonali sendiri menghadapi dilema. Setelah menjalani musim yang cukup solid bersama Newcastle, ia harus mempertimbangkan masa depannya. Tanpa sepak bola Eropa, daya tarik Newcastle berkurang, terutama bagi pemain sekaliber Tonali yang ingin terus tampil di panggung tertinggi. Kepindahan ke klub seperti Tottenham atau Manchester City bisa menjadi langkah maju, meski harus bersaing dengan gelandang-gelandang top lainnya.
Konteks Indonesia: Meski tidak langsung terkait, bursa transfer pemain top Eropa selalu menarik perhatian penggemar sepak bola Tanah Air. Perpindahan Tonali bisa memengaruhi persaingan di Premier League yang banyak ditonton di Indonesia. Selain itu, skema solidaritas FIFA juga relevan bagi klub-klub Indonesia yang melatih pemain muda hingga tembus ke luar negeri, meskipun regulasi domestik belum seketat FIFA.
Ke depan, keputusan Tonali akan menjadi ujian bagi Newcastle untuk mempertahankan pemain kuncinya di tengah godaan klub besar. Sementara bagi Milan, meski hanya mendapat 'recehan', mekanisme solidaritas tetap menjadi pengingat bahwa investasi pada pembinaan pemain muda tidak pernah sia-sia.



