Tanpa Stokes, Inggris Tersungkur di Oval: Tongue Akui Kehilangan Sang Kapten
Baca dalam 60 detik
- Ben Stokes mencetak 95 poin untuk Durham, skor tertingginya dalam setahun, saat Inggris menghadapi kekalahan telak dari Selandia Baru di Tes kedua.
- Ketiadaan Stokes sebagai kapten dan pemain serba bisa memaksa Inggris menurunkan tim dengan tiga debutan dan pengalaman termuda dalam 17 tahun.
- Stokes dan Gus Atkinson masih menjalani investigasi insiden klub malam, namun berpeluang kembali untuk Tes ketiga di Trent Bridge.

Ketiadaan Ben Stokes di lapangan terasa begitu nyata bagi Inggris. Pekan lalu, saat tim nasional terpuruk menghadapi kekalahan ketiga beruntun di The Oval, kapten yang absen itu justru menorehkan 95 poin untuk Durham—skor tertingginya dalam hampir setahun. Pace bowler Josh Tongue dengan gamblang mengakui: Inggris sangat merindukan sosok Stokes.
Stokes dan Gus Atkinson ditarik dari skuad Tes kedua melawan Selandia Baru menyusul insiden klub malam di London yang melibatkan pemain rugby Saracens. Meski demikian, keduanya diizinkan bermain di kriket county. Stokes membuktikan ketajamannya dengan 95 poin melawan Northamptonshire, skor terbaiknya sejak abad ke-100 melawan India pada Juli lalu.
Tanpa Stokes, tim Inggris tampil pincang. Kapten pengganti Joe Root harus memimpin tim yang dihuni tiga debutan dan jumlah caps gabungan paling sedikit dalam 17 tahun. Jordan Cox ditempatkan sebagai spesialis pemukul di nomor tujuh, sementara spinner Shoaib Bashir dicoret. Ollie Robinson dan Jamie Smith juga absen karena cedera dan cuti ayah. Hasilnya, Inggris mengejar target 463 yang hampir mustahil, dan hanya berkat 75 poin tak terkalahkan Root, pertandingan bisa berlanjut ke hari kelima.
Bagi Indonesia, kriket mungkin bukan olahraga utama, namun dinamika kepemimpinan dan krisis skuad Inggris menyiratkan pelajaran universal tentang pentingnya figur sentral dalam tim. Di tengah hiruk-pikuk sepak bola dan bulu tangkis, kisah ini mengingatkan bahwa olahraga apa pun—dari kriket hingga sepak bola—tidak lepas dari gejolak internal yang bisa mengubah peta persaingan global.
Menurut Tongue, yang menjalani debut internasional saat Stokes masih menjadi kapten, kehilangan Stokes tidak hanya soal angka. “Stokesy pemain luar biasa. Saya sangat menghormatinya,” ujar Tongue. Namun ia juga memuji kepemimpinan Root yang dinilai mampu mengisi kekosongan. Meski begitu, tanpa Stokes sebagai penyeimbang, komposisi tim menjadi timpang.
Investigasi insiden klub malam masih berlangsung, namun Stokes dan Atkinson berpeluang kembali untuk Tes ketiga di Trent Bridge mulai Kamis depan. Jika diizinkan, Stokes akan langsung mengambil alih ban kapten. Pertanyaannya, mampukah ia mengangkat moral tim yang tengah terpuruk, atau justru beban penyelidikan akan mengganggu konsentrasinya? Publik kriket dunia, termasuk penggemar di Indonesia yang mulai melirik olahraga ini, akan menanti jawabannya.