Dolar AS Diprediksi Tetap Perkasa, Intervensi Yen Tak Ubah Permainan: Jajak Pendapat Reuters
Baca dalam 60 detik
- Mayoritas analis valas dalam survei Reuters menilai intervensi Jepang tak akan mampu membalik tren pelemahan yen secara permanen.
- Bank of Japan dipandang sebagai kunci utama pemulihan yen, namun kenaikan suku bunga diperkirakan baru terjadi pada Oktober mendatang.
- Dolar AS diperkirakan tetap kuat dalam jangka pendek, tetapi berpotensi melemah terhadap euro dan yen pada tahun depan.

Nilai tukar dolar AS diproyeksikan tetap kokoh dalam beberapa bulan ke depan sebelum akhirnya melunak pada penghujung tahun, demikian hasil jajak pendapat Reuters terhadap puluhan ahli strategi mata uang. Survei yang digelar pada 31 Juli hingga 5 Agustus itu juga melahirkan konsensus terlemah untuk yen Jepang sejak polling serupa dimulai pada awal 1990-an, menandakan skeptisisme pasar terhadap efektivitas intervensi pemerintah Jepang.
Dalam sepekan terakhir, yen memang sempat menguat sekitar 4 persen terhadap dolar AS setelah Tokyo melakukan intervensi pasar yang dikoordinasikan dengan Washington. Namun, penguatan itu belum mampu menembus level tertinggi yang dicapai pada intervensi sebelumnya di bulan Mei. Kondisi ini mengindikasikan bahwa aksi jual dolar oleh otoritas Jepang hanya memberi efek sementara, sementara tekanan fundamental terhadap yen masih besar.
Hampir 95 persen dari sekitar 60 responden menilai intervensi lanjutan dari Jepang tidak akan mampu menahan pelemahan yen secara berkelanjutan. Sebagian besar dari mereka juga menegaskan bahwa Bank of Japan (BOJ) harus menaikkan suku bunga agar dampaknya bertahan lama. Namun, BOJ selama ini terkesan ragu-ragu untuk menaikkan biaya pinjaman lebih cepat dari sekali dalam enam bulan, terutama karena ekonomi domestik yang masih lemah. Meski demikian, pasar berjangka kini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga lagi pada Oktober, menyusul kenaikan pada Juni lalu yang membawa suku bunga acuan ke level 1 persen.
Di sisi lain, ekonomi AS yang masih solid membuat Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga lebih cepat untuk meredam tekanan inflasi, yang antara lain dipicu oleh konflik AS-Israel dengan Iran. Hal ini berarti penguatan dolar sebesar 2 persen sepanjang tahun ini bisa bertahan lebih lama. Survei menunjukkan euro diperkirakan bertahan di kisaran 1,15 dolar dalam tiga bulan ke depan, sebelum menguat sekitar 1 persen menjadi 1,16 dolar pada akhir Januari dan 1,18 dolar dalam setahun.
Hasil jajak pendapat ini memperpanjang pergeseran dari perkiraan penurunan dolar yang lebih tajam. Hampir separuh responden (25 dari 53) memperkirakan posisi long dolar saat ini tidak banyak berubah hingga akhir Agustus, sementara 22 responden melihat adanya penurunan, dan enam lainnya memperkirakan peningkatan lebih lanjut. Menurut Kit Juckes, kepala strategi FX di Societe Generale, dolar akan tetap kuat selama ekonomi AS masih solid, namun pergerakannya mungkin terbatas pada rentang tertentu atau naik lebih tinggi tergantung data ekonomi yang akan datang.
Juckes juga menyoroti bahwa yen adalah mata uang yang murah menurut berbagai ukuran karena ekonomi Jepang yang lemah dan suku bunga yang rendah. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran utang jangka panjang dan pertumbuhan potensial yang rendah akibat penurunan populasi turut melemahkan mata uang tersebut. Sementara itu, Ales Koutny, kepala suku bunga internasional di Vanguard, menilai intervensi hanya efektif untuk memperlambat depresiasi dan memberikan dukungan jangka pendek, tetapi tanpa perubahan fundamental, dampaknya akan cepat memudar. Menurutnya, pemulihan yen yang langgeng membutuhkan BOJ yang lebih hawkish, penurunan selisih suku bunga AS-Jepang, harga energi yang lebih rendah, atau perlambatan ekonomi yang mendorong investor Jepang memulangkan modalnya.
Derek Halpenny dari Mitsubishi UFJ Financial Group sependapat bahwa intervensi mungkin sudah selesai, dan keterlibatan AS dalam aksi bersama merupakan perkembangan signifikan yang membatasi minat membeli dolar/yen. Namun, bagi Indonesia, dinamika ini membawa implikasi tersendiri. Penguatan dolar yang berkepanjangan dapat menekan rupiah, meningkatkan biaya impor, dan mempengaruhi inflasi. Di sisi lain, jika dolar mulai melemah tahun depan, hal itu bisa meringankan beban nilai tukar dan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Pertanyaannya, akankah BOJ benar-benar menaikkan suku bunga pada Oktober dan mengubah arah permainan? Atau justru ketidakpastian global yang akan terus mendominasi pasar valas?



