Sejarah Baru: Jemima Lines Jadi Wanita Inggris Pertama di America's Cup Setelah 90 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Jemima Lines, 29 tahun, resmi masuk skuad GB1 untuk America's Cup 2027, menjadi perempuan Inggris pertama dalam 90 tahun yang berlaga di ajang ini.
- Edisi ke-38 America's Cup akan menjadi yang pertama dalam sejarah 175 tahun yang mewajibkan minimal satu perempuan dalam setiap kru lima orang.
- Dengan latar belakang teknik mesin, Lines juga berkontribusi dalam tim desain untuk mengembangkan peralatan kapal AC75, menandai peran ganda yang strategis.

Jemima Lines, mantan atlet kitefoil tim pelayaran Inggris, mencatatkan namanya dalam buku sejarah setelah menjadi perempuan Inggris pertama yang terpilih dalam tim America's Cup dalam 90 tahun terakhir. Kepastian ini diumumkan saat ia resmi bergabung dengan skuad GB1 untuk edisi ke-38 America's Cup yang akan digelar di Naples, Italia, pada 2027. Momen ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga sinyal perubahan besar dalam dunia pelayaran internasional yang selama ini didominasi pria.
Keputusan ini menjadi tonggak bersejarah karena untuk pertama kalinya dalam 175 tahun penyelenggaraan America's Cup, setiap kru yang terdiri dari lima orang wajib menyertakan minimal satu perempuan. Aturan baru ini merupakan respons atas kritik panjang terhadap kurangnya representasi gender dalam olahraga layar profesional. Lines, yang kini berusia 29 tahun, akan menjadi bagian dari kru inti GB1 bersama Bleddyn Mon, Dylan Fletcher, Ben Cornish, dan Andrea Tesei.
Perjalanan Lines menuju panggung dunia tidaklah biasa. Sebelumnya, ia adalah cadangan tim GB untuk Ellie Aldridge yang meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024. Namun, di luar arena kompetisi, Lines memiliki latar belakang yang unik: ia memegang gelar sarjana teknik mesin, pernah bekerja sebagai pemandu di basecamp Everest, mendaki puncak gunung, dan memecahkan rekor kite surfing di dataran tinggi. Kombinasi antara keahlian teknis dan jiwa petualang inilah yang membuatnya menonjol di antara kandidat lain.
Bagi Lines, pencapaian ini adalah buah dari didikan sang ayah, Ralph Crathorne, mantan tentara pasukan khusus Inggris yang meninggal dalam kecelakaan di Ben Nevis awal tahun ini. "Dia pasti akan sangat bangga," ujar Lines kepada BBC Sport. "Setiap olahraga yang saya tekuni selalu kami lakukan bersama sebagai keluarga. Dia yang mengarahkan saya ke sini." Dedikasi dan semangat juang sang ayah menjadi fondasi kuat bagi Lines untuk terus menembus batas.
Kehadiran Lines di tim GB1 tidak hanya sebagai awak kapal. Dengan latar belakang teknik mesinnya, ia akan memainkan peran kunci dalam tim desain, membantu mengembangkan peralatan yang digunakan di atas kapal AC75. Ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam olahraga layar tidak lagi terbatas pada aspek fisik, tetapi juga strategis dan teknis. "Ini adalah tantangan desain terlebih dahulu, kemudian kami bawa ke air. Hal yang menarik adalah perlombaan sudah dimulai sejak sekarang, dan sisanya masih akan datang," kata Lines.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi relevan dalam konteks perkembangan olahraga layar di Asia Tenggara. Meskipun Indonesia belum memiliki tim yang berkompetisi di America's Cup, kebijakan inklusif yang diterapkan ajang ini dapat menjadi inspirasi bagi pengelola olahraga layar nasional untuk lebih membuka ruang bagi atlet perempuan. Selain itu, meningkatnya perhatian terhadap teknologi kapal layar seperti AC75 dapat mendorong kolaborasi riset dan pengembangan di bidang maritim, yang sejalan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Langkah Lines juga menandai pergeseran paradigma dalam olahraga layar profesional, di mana keterampilan teknis dan rekayasa semakin dihargai setara dengan kemampuan fisik. Ini membuka peluang bagi atlet dengan latar belakang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) untuk berkontribusi lebih luas. Pertanyaannya, apakah kebijakan kuota gender di America's Cup akan diikuti oleh ajang olahraga internasional lainnya? Jika ya, kita mungkin akan melihat lebih banyak lagi perempuan di posisi strategis dalam dunia olahraga, tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai perancang dan pengambil keputusan.



