Dua Tahun Menekuni Sprint, Remaja Inggris Tembus Kejuaraan Dunia U-20
Baca dalam 60 detik
- James Arminio, pelari 18 tahun asal Gloucester, baru dua tahun berlatih atletik namun sudah menembus skuad Inggris untuk Kejuaraan Dunia U-20 di Oregon.
- Perjalanan kilatnya dimulai dari sekolah menengah, kemudian bergabung dengan klub lokal, dan kini berkompetisi di level dunia sambil menunggu hasil A-Level.
- Arminio menegaskan masih banyak ruang untuk berkembang dan menjadikan ajang ini sebagai batu loncatan karier jangka panjangnya.

James Arminio, pelari muda asal Gloucestershire, Inggris, baru genap dua tahun menekuni dunia sprint, namun namanya sudah masuk dalam daftar atlet yang akan membela Inggris pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Eugene, Oregon, pekan ini. Remaja berusia 18 tahun itu akan turun di nomor 100 meter dan estafet 4x100 meter, sebuah pencapaian yang nyaris mustahil dibayangkan saat ia pertama kali menginjakkan kaki di lintasan pada 2024.
Perjalanan Arminio dimulai secara tidak sengaja. Sebelumnya, ia hanyalah pemain sepak bola yang mengaku tidak pernah menekuni olahraga itu secara serius. Baru ketika masuk jenjang sixth form pada 2024, ia mulai mengenal atletik dan menyadari potensi kecepatannya. "Pelatih selalu tahu saya cepat, tetapi baru setelah mencoba lintasan saya tahu seberapa cepat saya bisa," ujarnya kepada BBC Radio Gloucestershire. Dari kompetisi antar sekolah, ia lolos ke kejuaraan regional, lalu bergabung dengan Gloucester Athletics Club dan berlatih di bawah arahan pelatih Justin Smith.
Sejak menjalani latihan konsisten, catatan waktu sprint Arminio merosot drastis. Ia bahkan sudah merasakan debut membela Inggris pada awal musim panas ini. Namun, keputusan untuk menargetkan Kejuaraan Dunia U-20 diambil setelah diskusi dengan pelatihnya pada awal musim. "Kami berbincang dan bertanya, apakah kita akan mengejar ini? Saya langsung menjawab 'tentu saja'," kenang Arminio. Target itu menjadi motivasi utama sepanjang musim, dan hasilnya kini ia bersiap berlaga di panggung dunia.
Menariknya, prestasi ini datang di tengah kesibukan akademis. Arminio masih harus menyelesaikan ujian A-Level, dan hasilnya baru akan keluar saat ia kembali dari Amerika Serikat. Ia mengakui beban ganda ini cukup berat, tetapi tetap optimistis. "Semua terjadi begitu cepat, banyak hal yang harus dijalani sambil mengurus A-Level," katanya. Meski begitu, ia menegaskan bahwa dirinya masih sangat baru di olahraga ini dan masih banyak hal yang perlu dipelajari.
Arminio tidak ingin berpuas diri. Ia sadar level persaingan di kejuaraan dunia sangat tinggi, dan target realistisnya adalah meraih personal best serta menyerap pengalaman sebanyak mungkin. "Tentu menyenangkan jika bisa menang, tetapi dengan level kompetisi seperti ini, butuh usaha ekstra untuk bisa tampil baik," ujarnya. Ia berharap ajang ini menjadi langkah awal dari karier panjangnya di dunia atletik.
Kisah Arminio mengingatkan pada fenomena atlet yang berkembang cepat berkat bakat alami dan dukungan lingkungan. Di Indonesia, cerita serupa bisa menjadi inspirasi bagi pembinaan atlet muda, terutama di daerah yang belum memiliki infrastruktur olahraga memadai. Keberhasilan Arminio menunjukkan bahwa dengan pembinaan yang tepat, potensi besar bisa muncul dari tempat yang tidak terduga. Pertanyaannya, apakah Indonesia punya sistem yang mampu menjaring dan mengembangkan bakat-bakat seperti ini sejak dini?
Ke depan, perjalanan Arminio akan menarik untuk diikuti. Jika ia mampu tampil konsisten di level internasional, bukan tidak mungkin ia akan menjadi sprinter andalan Inggris dalam beberapa tahun ke depan. Namun, ia sendiri memilih untuk fokus pada proses. "Saya hanya ingin menikmati pengalaman, bertemu orang-orang baru, belajar dari mereka, dan membawa itu semua ke masa depan," pungkasnya. Dengan sikap rendah hati dan kerja keras, nama James Arminio mungkin akan semakin sering terdengar di dunia atletik.



