AMD Terjun Bebas: Investor Kecewa, Target Pendapatan Tak Cukup Meyakinkan di Tengah Perlombaan AI
Baca dalam 60 detik
- Saham AMD merosot 6,6% setelah proyeksi pendapatan kuartal III dianggap kurang agresif, menghapus miliaran nilai pasar.
- Keputusan Elon Musk memilih Nvidia untuk infrastruktur AI SpaceX menambah tekanan pada AMD yang tengah mengejar ketertinggalan.
- Analis menilai ekspektasi pasar sudah terlalu tinggi, sementara AMD masih menghadapi risiko pasokan hingga 2027.

Saham Advanced Micro Devices (AMD) anjlok hingga 6,6 persen pada perdagangan Rabu (5/8), setelah proyeksi pendapatan kuartal III yang dirilis perusahaan dinilai gagal memenuhi ekspektasi investor yang menginginkan bukti lebih nyata bahwa belanja besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) akan segera mendongkrak pertumbuhan pendapatan secara signifikan. Penurunan ini diperkirakan menghapus sekitar 59 miliar dolar AS dari kapitalisasi pasar perusahaan.
Kekhawatiran investor semakin diperparah oleh keputusan Elon Musk, CEO SpaceX, yang memilih untuk membangun infrastruktur komputasi perusahaannya secara eksklusif dengan chip buatan Nvidia, pesaing utama AMD. Padahal, AMD baru saja mengumumkan kerja sama dengan Anthropic dan Core Scientific pada bulan lalu untuk menarik pelanggan besar dan menutup jarak dengan Nvidia dan Intel.
Proyeksi pendapatan AMD untuk kuartal III sekitar 13 miliar dolar AS, plus minus 300 juta dolar AS, sebenarnya sedikit di atas estimasi analis yang dihimpun LSEG, yakni 12,52 miliar dolar AS. Namun, analis dari Bernstein, Stacy Rasgon, menilai bahwa ekspektasi pasar telah meningkat tajam setelah Intel merilis hasil keuangan yang lebih baik beberapa pekan lalu. "Kami menduga ekspektasi sudah bergerak lebih tinggi, dan sisi pembeli sudah memiliki pandangan yang cukup optimistis," ujarnya.
Senada dengan itu, analis TD Cowen menyebut AMD menghadapi "standar yang sangat tinggi" setelah kemenangan pelanggan terkait AI dan reli saham yang tajam, meskipun hasil dan proyeksi perusahaan secara objektif baik. Sementara itu, analis J.P. Morgan mengingatkan bahwa kendala pasokan masih menjadi risiko, terutama untuk proyek yang terkonsentrasi pada proses N3 milik TSMC dan teknologi pengemasan chip CoWoS yang diperkirakan akan mengalami keketatan hingga 2027.
Di tengah tekanan pasar, CEO AMD, Lisa Su, tetap optimistis. Ia menyatakan bahwa pendapatan pusat data perusahaan diperkirakan akan lebih dari dua kali lipat pada 2027, dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan di atas target sebelumnya yang sebesar 35 persen. Pendapatan pusat data AMD sendiri tercatat mencapai 6,72 miliar dolar AS, melampaui ekspektasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang menarik. Meskipun AMD dan Nvidia adalah perusahaan asing, persaingan mereka di pasar chip AI akan memengaruhi harga dan ketersediaan teknologi AI di dalam negeri. Pemerintah Indonesia yang tengah gencar mendorong transformasi digital dan adopsi AI di berbagai sektor, seperti layanan kesehatan, pertanian, dan pendidikan, perlu mencermati dinamika ini. Ketergantungan pada satu pemasok chip dapat menjadi risiko, sementara persaingan yang sehat dapat menekan biaya dan mendorong inovasi.
Analis memperkirakan bahwa AMD masih memiliki peluang untuk bangkit, terutama jika perusahaan berhasil mengeksekusi strategi produk dan memperluas pangsa pasar di segmen AI. Namun, dengan ekspektasi yang sudah sangat tinggi, setiap langkah AMD akan diawasi ketat oleh investor. Pertanyaannya, mampukah AMD mempertahankan momentum pertumbuhan dan meyakinkan pasar bahwa mereka bukan sekadar pemain kedua di belakang Nvidia? Atau akankah tekanan ini justru memaksa AMD untuk mengambil langkah lebih agresif, seperti akuisisi atau kemitraan strategis, demi merebut kepercayaan pasar?



