Scaffolding Runtuh di Proyek Kereta Api Thailand Tewaskan Dua Pekerja
Baca dalam 60 detik
- Dua pekerja tewas dan tujuh luka-luka akibat runtuhnya perancah di terowongan Doi Luang, Chiang Rai, proyek jalur kereta Den Chai-Chiang Rai-Chiang Khong.
- Penyebab awal diduga jatuhnya batu dari dinding terowongan saat pemasangan sistem waterproofing, namun investigasi terperinci masih berlangsung.
- Proyek senilai 19,385 miliar baht ini dikerjakan oleh konsorsium perusahaan Thailand, menimbulkan pertanyaan tentang standar keselamatan konstruksi infrastruktur di kawasan.

Kecelakaan fatal kembali terjadi di proyek infrastruktur Thailand. Dua orang pekerja tewas dan tujuh lainnya mengalami luka-luka setelah perancah (scaffolding) runtuh di dalam terowongan Doi Luang, Chiang Rai, pada Sabtu (20/6) malam. Peristiwa ini terjadi saat pembangunan jalur kereta api Den Chai-Chiang Rai-Chiang Khong yang dikelola oleh State Railway of Thailand (SRT).
Wakil Menteri Perhubungan Thailand, Siripong Angkasakulkiat, mengungkapkan bahwa laporan awal yang diterima pukul 20.35 waktu setempat menduga penyebab kecelakaan adalah jatuhnya batu dari dinding terowongan ketika para pekerja tengah memasang sistem waterproofing. Sebelumnya, ada keterangan awal yang menyebutkan keruntuhan di area pekerjaan shotcrete. Namun, otoritas masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti.
Akibat kejadian ini, dua orang dinyatakan meninggal dunia, tiga mengalami luka berat, dan empat lainnya luka ringan. Seluruh korban, baik yang meninggal maupun terluka, telah dievakuasi ke rumah sakit. โSituasi kini sudah terkendali, dan area kecelakaan telah disterilkan demi keselamatan,โ ujar Siripong. Tim keselamatan proyek telah mengambil alih lokasi dan memantau kondisi secara ketat, sementara investigasi mendetail sedang berlangsung.
Kecelakaan ini menjadi sorotan di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur perkeretaapian di Thailand. Proyek Den Chai-Chiang Rai-Chiang Khong merupakan bagian dari upaya memperluas konektivitas menuju perbatasan Laos dan kawasan Segitiga Emas. Namun, insiden seperti ini mengingatkan kembali pentingnya kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja, terutama di proyek bawah tanah yang memiliki risiko tinggi.
Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat banyaknya proyek infrastruktur serupa, seperti pembangunan kereta cepat dan terowongan di berbagai daerah. Kecelakaan konstruksi di Thailand menjadi pengingat bahwa pengawasan ketat dan prosedur keselamatan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas. Kegagalan dalam hal ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga dapat menunda proyek dan meningkatkan biaya.
Departemen Proyek Khusus dan Konstruksi SRT telah bergerak cepat untuk memeriksa lokasi. Kementerian Perhubungan Thailand berjanji akan melaporkan perkembangan investigasi lebih lanjut. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah kecelakaan ini akibat kelalaian teknis semata, atau ada kelemahan sistemik dalam pengelolaan keselamatan proyek infrastruktur di Thailand? Jawabannya akan menentukan langkah perbaikan ke depan, tidak hanya bagi Thailand, tetapi juga bagi negara-negara tetangga yang tengah mengejar ambisi pembangunan serupa.



