Maman Abdurrahman, Eks Ketua Umum Persis, Tutup Usia: Kehilangan Besar bagi Dakwah dan Pembaruan Islam
Baca dalam 60 detik
- Maman Abdurrahman, mantan Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis), meninggal dunia pada Minggu (21/6).
- Ia dikenal sebagai tokoh yang dekat dengan Muhammadiyah dan berperan dalam gerakan dakwah serta pembaruan Islam.
- Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, dengan pesan agar semangat perjuangannya dilanjutkan oleh keluarga dan bangsa.

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), Maman Abdurrahman, meninggal dunia pada Minggu (21/6). Kabar duka ini diumumkan melalui akun media sosial resmi Persis, mengejutkan kalangan ormas Islam dan tokoh nasional.
Maman Abdurrahman memimpin Persis periode 2010-2015, kemudian menjabat sebagai Ketua Majelis Penasihat PP Persis masa jabatan 2022-2027. Ia juga dikenal sebagai ayah dari Hilman Latief, mantan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama.
Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai tokoh, termasuk Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dalam pernyataan resmi, Haedar menyebut Maman sebagai sosok yang sangat dekat dengan Muhammadiyah, baik dalam pemikiran maupun pergerakan. "Jauh sebelum Pak Hilman menjadi anggota PP Muhammadiyah, saya sering berkomunikasi, bersilaturahmi, dan berdiskusi dengan beliau. Tentu Persis maupun Muhammadiyah merasa kehilangan atas wafatnya tokoh besar tersebut," ujar Haedar.
Haedar menambahkan bahwa kepergian Maman merupakan kehilangan besar bagi gerakan dakwah dan pembaruan Islam di Indonesia. Ia berpesan kepada Hilman Latief dan keluarga besar untuk terus menjaga dan melanjutkan semangat perjuangan almarhum demi memajukan Islam dan bangsa. "Atas nama PP Muhammadiyah, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhum husnul khatimah, diampuni segala khilafnya, diterima amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," pungkas Haedar.
Maman Abdurrahman dikenal sebagai tokoh yang menjembatani hubungan antara Persis dan Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Kedekatannya dengan Muhammadiyah terlihat dari seringnya komunikasi dan diskusi yang dilakukan, bahkan sebelum putranya, Hilman Latief, bergabung dengan PP Muhammadiyah. Hal ini menunjukkan peran Maman sebagai figur yang mampu membangun dialog dan kerja sama lintas ormas.
Kepergian Maman tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan Persis, tetapi juga oleh masyarakat Islam Indonesia secara luas. Ia meninggalkan warisan pemikiran dan perjuangan dalam bidang dakwah dan pembaruan Islam. Pesan Haedar untuk melanjutkan semangat perjuangan Maman menjadi pengingat akan pentingnya kontinuitas gerakan keislaman yang moderat dan inklusif.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Persis dan Muhammadiyah akan melanjutkan kerja sama yang telah dibangun Maman, serta bagaimana Hilman Latief dan keluarga dapat mewarisi semangat perjuangannya. Momen ini menjadi refleksi bagi ormas Islam untuk terus memperkuat persatuan dan pembaruan di tengah tantangan zaman.



