Tuchel Sembunyikan Cedera Saka demi Jaga Peluang Inggris di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Bukayo Saka menjalani latihan individu karena masalah Achilles yang dikelola sejak Maret, absen dari sesi grup bersama 25 pemain Inggris lainnya.
- Pelatih Thomas Tuchel mengakui Saka kemungkinan baru akan dimainkan sebagai starter pada laga terakhir fase grup melawan Panama, bukan kontra Ghana.
- Strategi manajemen beban ini diyakini sebagai upaya Tuchel melindungi aset berharga untuk babak gugur, meski Saka sendiri mengaku siap ambil risiko.

Bukayo Saka menjadi satu-satunya pemain Inggris yang tidak mengikuti latihan grup saat tim nasional bersiap menghadapi Ghana dalam laga kedua Grup L Piala Dunia 2026. Pemain sayap Arsenal itu menjalani program individu di dalam ruangan pada Sabtu (21/6) waktu setempat, menangani masalah Achilles yang telah ia kelola sejak Maret lalu.
Pertandingan melawan Ghana di Boston, Selasa (24/6) pukul 21.00 BST, akan menjadi ujian bagi kedalaman skuad Inggris. Kedua tim sama-sama mengawali grup dengan kemenangan, sehingga laga ini krusial untuk menentukan langkah menuju babak 16 besar. Namun, kehadiran Saka yang hanya menjadi pemain pengganti saat melawan Kroasia—memberikan assist untuk gol keempat Marcus Rashford—menimbulkan pertanyaan tentang kebugarannya.
Pelatih Thomas Tuchel sebelumnya mengungkapkan bahwa Saka menderita tendinitis Achilles dan perlu dikelola secara hati-hati pada fase awal turnamen. Meski pemain berusia 24 tahun itu menegaskan siap bermain dan bahkan rela mengambil risiko demi membantu tim, Tuchel menyatakan Saka kemungkinan besar baru akan menjadi starter pada laga terakhir grup melawan Panama di New Jersey, 27 Juni. “Bukayo siap dan akan semakin siap. Saya pikir begitu kita sampai ke pertandingan terakhir grup ini, dia akan siap,” ujar Tuchel.
Keputusan Tuchel untuk tidak memaksakan Saka sejak awal turnamen menunjukkan pendekatan hati-hati yang jarang terlihat di turnamen besar. Manajer asal Jerman itu tampaknya ingin melindungi aset paling berbahaya Inggris untuk babak gugur, di mana lawan semakin kuat dan setiap detail kecil bisa menentukan. Namun, langkah ini juga berisiko: jika Inggris gagal mengamankan poin penuh melawan Ghana, tekanan untuk memainkan Saka akan meningkat drastis.
Di sisi lain, situasi ini mengingatkan pada praktik manajemen pemain di klub-klub Eropa yang kerap merahasiakan cedera pemain bintang. Manajer Arsenal Mikel Arteta dikenal sangat tertutup mengenai kondisi Saka, sehingga pengakuan Tuchel menjadi sorotan. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini relevan mengingat banyak pemain Timnas Indonesia juga kerap bermain dalam kondisi cedera ringan demi membela negara. Transparansi informasi cedera menjadi isu penting, baik untuk kepentingan tim maupun perlindungan pemain jangka panjang.
Tuchel sendiri belum menutup kemungkinan Saka tampil sejak awal melawan Ghana jika situasi mendesak. Namun, dengan jadwal padat dan suhu panas di Amerika Serikat yang bisa mempengaruhi kebugaran, keputusan akhir akan bergantung pada evaluasi medis harian. Pertanyaan besarnya: akankah strategi konservatif Tuchel membuahkan hasil, atau justru menjadi bumerang jika Inggris kehilangan poin berharga di fase grup?



