Keputusan Kontroversial Wasit Hadapi Skotlandia: Penalti Ditolak karena Bola Keluar Lapangan
Baca dalam 60 detik
- Wasit Uzbekistan menolak penalti John McGinn dengan alasan bola akan keluar lapangan saat pelanggaran terjadi, memicu perdebatan soal interpretasi hukum permainan.
- Dua momen kontroversial dalam laga uji coba Skotlandia vs Maroko memunculkan kritik keras dari mantan pemain dan pelatih, termasuk soal kartu merah yang tak diberikan.
- Insiden ini menyoroti inkonsistensi kepemimpinan wasit di level internasional, relevan bagi pengamat sepak bola Indonesia yang kerap menghadapi keputusan serupa di Liga 1.

Wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, memberikan alasan yang dianggap tak lazim saat menolak permintaan penalti John McGinn dalam laga uji coba antara Skotlandia dan Maroko di Boston, Amerika Serikat. Sang pengadil menyatakan bahwa bola sudah akan meninggalkan area permainan ketika McGinn dijatuhkan oleh bek Maroko, Neil el Aynaoui. Keputusan ini sontak memicu reaksi keras dari kubu Skotlandia, termasuk Stephen McGinn, kakak sekaligus pelatih Falkirk yang turut menyaksikan pertandingan.
Dalam wawancara dengan BBC Radio Scotland, Stephen McGinn mengungkapkan bahwa sang adik mendapat penjelasan langsung dari wasit di lapangan. "Wasit bilang ke John, karena bola akan keluar, itu bukan pelanggaran. Sejak kapan aturan seperti itu berlaku? Ini tidak masuk akal," ujarnya. Menurut Stephen, setelah menonton tayangan ulang, ia yakin insiden tersebut seharusnya berbuah penalti. Namun, ia mengakui bahwa klaim penalti dari rekan setim John, Scott McTominay, lebih terkesan sebagai upaya mencari pelanggaran.
Skotlandia akhirnya harus mengakui keunggulan Maroko dengan skor 1-0 dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Gillette. Selain dua insiden penalti, laga ini juga menyisakan kontroversi lain: pelanggaran terakhir bek Issa Diop terhadap striker Che Adams. Mantan pemain sayap Skotlandia, Neil McCann, yang kini menukangi Kilmarnock, menilai Diop seharusnya mendapat kartu merah langsung. "Itu pelanggaran dari belakang, tidak ada pemain bertahan lain yang menutupi. Che Adams sudah berada di sisi gawang. Saya tidak percaya wasit tidak diperlihatkan ke monitor VAR," kata McCann.
Stephen McGinn sependapat. "Di liga kami musim lalu, pelanggaran seperti itu sudah pasti kartu merah. Tidak ada alasan untuk tidak memberikan kartu merah," tegasnya. Keduanya menyayangkan keputusan wasit yang tidak memanfaatkan teknologi VAR untuk meninjau insiden tersebut, meskipun VAR tersedia dalam pertandingan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kontroversi ini mengingatkan pada dinamika kepemimpinan wasit di Liga 1 yang kerap menuai protes. Keputusan wasit yang dianggap tidak konsisten, terutama dalam hal penalti dan kartu merah, menjadi momok tersendiri bagi klub-klub Tanah Air. Kasus Skotlandia vs Maroko menunjukkan bahwa masalah serupa juga terjadi di level internasional, mempertegas perlunya standar wasit yang lebih seragam dan pemanfaatan VAR yang optimal.
Ke depan, Skotlandia dijadwalkan bertolak ke Miami untuk persiapan lanjutan, sementara Maroko melanjutkan tur Amerika. Pertanyaan yang mengemuka: akankah FIFA dan badan wasit internasional mengevaluasi kembali interpretasi hukum permainan, terutama terkait pelanggaran yang terjadi saat bola meninggalkan lapangan? Ataukah kontroversi seperti ini akan terus mewarnai sepak bola global?



