Kucing Tandang Kembali Muncul di Thailand Setelah 30 Tahun, Indonesia Menyandang Beban Konservasi Terbesar
Baca dalam 60 detik
- Kamera jebak di Thailand selatan merekam kucing tandang betina beserta anaknya pada 2025, menandai kemunculan pertama spesies ini dalam tiga dekade.
- Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sumatera, merupakan benteng utama habitat kucing tandang, namun deforestasi dan konversi lahan sawit mengancam kelangsungan hidupnya.
- Minimnya riset dan deteksi di alam liar menjadi tantangan serius bagi upaya konservasi kucing tandang di Indonesia, yang memerlukan perhatian mendesak.

Setelah tiga puluh tahun lenyap dari rekaman ilmiah, kucing tandang (Prionailurus planiceps) kembali terlihat di Thailand selatan—sebuah penemuan yang menggetarkan dunia konservasi Asia Tenggara dan sekaligus mengingatkan Indonesia akan tanggung jawabnya sebagai rumah bagi populasi terbesar spesies yang terancam punah ini.
Pada akhir 2025, kamera jebak di Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand Selatan, menangkap gambar seekor kucing tandang betina yang berjalan di malam hari diikuti anaknya. Rekaman itu menjadi bukti pertama keberadaan spesies semiakuatik ini di Thailand sejak 1995. Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tanaman Thailand bersama organisasi Panthera melakukan survei besar-besaran yang menghasilkan 13 rekaman pada 2024 dan 16 rekaman tambahan pada 2025, semuanya di kawasan yang sama. Menurut Kritsana Kaewplang, Direktur Panthera Thailand, penemuan ini menunjukkan bahwa habitat gambut yang terancam pun masih menyimpan kejutan.
Kucing tandang bukanlah kucing liar biasa. Dengan berat dewasa hanya 1,5–2,5 kilogram, ia lebih ringan dari kucing rumahan rata-rata. Ciri khasnya adalah kepala datar dan memanjang, jari berselaput, serta gigi yang adaptif untuk menangkap ikan dan katak. Hewan ini hidup di tepi sungai, rawa gambut, dan mangrove—ekosistem yang paling cepat hilang di Asia Tenggara. Populasi global diperkirakan kurang dari 2.500 individu dewasa, tersebar di Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sumatera, dan kini Thailand selatan. Statusnya di IUCN adalah Genting (Endangered) dan masuk Apendiks I CITES, yang melarang perdagangan internasional.
Bagi Indonesia, berita ini menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, Indonesia menyimpan benteng utama kucing tandang dunia. Pemodelan distribusi spesies yang dipublikasikan di jurnal PLoS ONE oleh Andreas Wilting dan kolega menunjukkan bahwa habitat potensial terbesar berada di dataran rendah Kalimantan, termasuk di sekitar Taman Nasional Sebangau dan kawasan Kalimantan Utara. Sumatera menyusul sebagai wilayah penting kedua. Namun, di sisi lain, ancaman terhadap spesies ini justru paling parah di Indonesia. Konversi hutan rawa gambut menjadi perkebunan sawit dan akasia telah menghancurkan habitat kucing tandang secara masif. Berbeda dengan kucing liar lain yang bisa beradaptasi ke perbukitan, kucing tandang terikat pada ekosistem lahan basah—ketika rawa berubah menjadi sawit, ia kehilangan tempat tinggal.
Penelitian Chela Powell dan Muhammad Iqbal (2022) di Semenanjung Kampar, Riau, mencatat bahwa deforestasi di provinsi tersebut merupakan yang tertinggi di Indonesia antara pertengahan 1990-an hingga 2010. Pembuatan kanal untuk mengeringkan gambut menghilangkan sumber air permanen, sementara polusi air dan penangkapan ikan berlebihan mengurangi mangsa utama kucing tandang, seperti ikan dan amfibi. Kebakaran hutan dan penebangan liar semakin memperparah kondisi. Ironisnya, pengetahuan tentang kucing tandang di Indonesia masih sangat minim. Wilting dan kolega mengungkapkan bahwa hanya 17 foto yang tersedia untuk penelitian selama 20 tahun terakhir—jumlah yang sangat sedikit dibandingkan spesies kucing liar lain seperti harimau sumatera atau macan dahan. Penyebabnya adalah penempatan kamera jebak yang jarang di tepi danau atau sungai, habitat favorit kucing tandang.
“Kurangnya data penelitian dan sulitnya mendeteksi spesies ini di alam liar menjadi tantangan tersendiri dalam upaya konservasi, sehingga diperlukan perhatian riset yang mendesak untuk mencegah kepunahan,” tulis para peneliti. Di Kalimantan bagian Indonesia, keberadaan kucing tandang hampir tidak terdokumentasi karena minimnya survei. Sementara di Malaysia, rekaman diperoleh dari taman nasional seperti Samusam dan Maludam. Kesenjangan data ini menjadi ironi, mengingat Indonesia memiliki kawasan hutan gambut terluas yang menjadi benteng terakhir kucing tandang.
Keberhasilan Thailand menemukan kembali kucing tandang setelah tiga dekade memberikan secercah harapan. Namun, tanpa aksi nyata di Indonesia—mulai dari penghentian konversi lahan gambut, peningkatan riset kamera jebak di habitat tepi air, hingga perlindungan kawasan seperti Taman Nasional Sebangau—spesies ini mungkin akan benar-benar lenyap sebelum sempat dipahami. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan menunggu tiga puluh tahun lagi untuk menyadari bahwa kucing tandang masih ada di hutan-hutannya?



