Naira Makin Tertekan: Selisih Kurs Resmi dan Pasar Gelap Melebar ke N45 per Dolar
Baca dalam 60 detik
- Selisih kurs naira di pasar resmi dan paralel melebar hingga N45 per dolar AS pada Kamis, menandakan tekanan likuiditas valas yang kian dalam.
- Kurs resmi naira melemah ke N1.363,3 per dolar, sementara di pasar informal mencapai N1.405, dipicu oleh permintaan tinggi untuk pembayaran luar negeri dan minimnya aliran dana investor portofolio.
- Cadangan devisa Nigeria justru naik tipis ke US$50,96 miliar, namun analis memperingatkan bahwa pemulihan nilai tukar masih bergantung pada kebijakan moneter yang lebih agresif.

Selisih antara kurs resmi dan pasar gelap naira Nigeria—yang dikenal sebagai FX spread—melonjak hingga N45 per dolar AS pada Kamis (17/6), menandakan tekanan likuiditas valuta asing yang kian akut di tengah permintaan impor yang tinggi.
Berdasarkan publikasi harian Bank Sentral Nigeria (CBN), nilai tukar naira di jendela resmi turun ke N1.363,3040 per dolar AS, dari posisi sebelumnya N1.360,0725. Transaksi di Pasar Valuta Asing Nigeria (NFEM) terjadi pada kisaran N1.361 hingga N1.366 per dolar, mengindikasikan ketatnya likuiditas di pasar resmi.
Kondisi ini sudah berlangsung selama tiga sesi perdagangan terakhir. Lonjakan permintaan untuk pembayaran luar negeri menjadi biang keladi pelemahan naira di pasar resmi. Sementara itu, di pasar paralel, naira juga terdepresiasi ke N1.405 per dolar dari N1.396 sehari sebelumnya, menurut catatan Meristem Securities Limited.
Analis pasar menilai bahwa dinamika likuiditas ini dipicu oleh minimnya posisi surat berharga Operasi Pasar Terbuka (OMO) oleh investor portofolio asing. Padahal, mereka merupakan sumber utama aliran dolar bagi bank sentral. Tanpa partisipasi aktif mereka, pasokan valas di pasar resmi menjadi terbatas.
Meski omzet transaksi antarbank meningkat menjadi US$69,918 juta yang tersebar dalam 85 transaksi—naik signifikan dari US$54,293 juta sehari sebelumnya—jumlah tersebut belum mampu mengimbangi besarnya penyelesaian kewajiban valas. Akibatnya, tekanan terhadap naira justru bertambah.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat akan kerentanan negara berkembang terhadap arus modal asing. Meski cadangan devisa Indonesia relatif lebih besar, fluktuasi nilai tukar rupiah juga kerap dipengaruhi oleh sentimen investor global dan kebijakan moneter bank sentral. Pengalaman Nigeria menunjukkan bahwa intervensi likuiditas saja tidak cukup tanpa dukungan fundamental fiskal dan daya saing ekspor.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah CBN mengerek kembali kepercayaan investor melalui instrumen OMO dan kebijakan suku bunga yang lebih atraktif? Atau, tekanan terhadap naira akan terus berlanjut seiring membengkaknya kebutuhan valas untuk impor dan pembayaran utang?



