Xhaka Pilih Pengalaman, Swiss Bangkit di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kapten Granit Xhaka mengeksekusi penalti di menit akhir untuk mengunci kemenangan 4-1 Swiss atas Bosnia, mengantarkan timnya ke puncak klasemen Grup C.
- Penampilan gemilang pemain pengganti Johan Manzambi (dua gol) dan Ruben Vargas menjadi kunci kebangkitan Swiss setelah hasil imbang di laga perdana.
- Pertandingan melawan Kanada pada 24 Juni akan menentukan langkah Swiss menuju babak gugur, dengan Xhaka sebagai motor permainan.

Granit Xhaka memilih untuk tidak memberikan kesempatan hat-trick kepada rekan setimnya yang lebih muda, Johan Manzambi, saat Swiss menang telak 4-1 atas Bosnia dan Herzegovina dalam lanjutan Grup C Piala Dunia 2026. Eksekusi penalti kapten timnas Swiss itu pada menit ke-97 tidak hanya mengamankan tiga poin, tetapi juga menegaskan peran sentralnya di tengah skuat yang tengah berjuang bangkit setelah hasil kurang memuaskan di laga pembuka.
Kemenangan ini menjadi jawaban atas kritik yang menyelimuti performa Swiss setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Qatar. Dengan koleksi empat poin dari dua pertandingan, posisi Swiss di klasemen grup kini cukup kokoh. Namun, tantangan sesungguhnya masih menanti: duel melawan Kanada yang sedang dalam performa impresif di Vancouver pada 24 Juni mendatang.
Manzambi, pemain berusia 20 tahun yang membela Freiburg, menjadi bintang lapangan dengan dua gol cepat setelah masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua. Gol pertamanya tercipta hanya dua menit setelah ia menggantikan rekan setimnya, menjadikannya pencetak gol termuda Swiss di Piala Dunia sejak 1950. Ketika Swiss mendapat hadiah penalti di masa injury time, banyak yang menduga Manzambi akan diberi kesempatan menorehkan hat-trick, mengikuti jejak Lionel Messi dan Jonathan David di turnamen ini.
Namun, Xhaka yang sudah tampil di empat edisi Piala Dunia mengambil alih bola dan sukses menjalankan tugasnya. โJohan masih muda, masa depannya masih panjang. Saya membiarkan pengalaman berbicara kali ini,โ ujar Xhaka seusai pertandingan. Gol tersebut menjadikannya pemain Swiss kedua setelah Xherdan Shaqiri yang mampu mencetak gol di tiga edisi Piala Dunia berbeda.
Performa Swiss di babak pertama memang mendominasi penguasaan bola, tetapi gagal dikonversi menjadi gol. Xhaka mengakui bahwa perubahan terjadi setelah pelatih memasukkan Manzambi, Ruben Vargas, dan Djibril Sow. โPergantian pemain menjadi kunci. Semua harus siap, dan mereka menunjukkan mengapa kami memiliki skuat yang dalam,โ kata Xhaka. Vargas juga mencatatkan namanya di papan skor setelah masuk dari bangku cadangan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, performa Swiss ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks persaingan di Grup C yang juga dihuni Kanada dan Qatar. Jika Swiss mampu mengalahkan Kanada, peluang mereka untuk melaju ke babak 16 besar akan terbuka lebar. Namun, jika gagal, posisi mereka bisa terancam oleh kejutan dari tim lain. Pertandingan melawan Kanada akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketangguhan mental dan taktik tim asuhan pelatih Swiss.
Dengan pengalaman Xhaka yang menjadi tulang punggung, serta munculnya talenta muda seperti Manzambi, Swiss menunjukkan bahwa kombinasi antara kematangan dan energi muda bisa menjadi resep sukses. Pertanyaan selanjutnya: apakah mereka mampu mempertahankan performa ini saat menghadapi tekanan tinggi di laga penentu?



