Leao Tunda Keputusan Masa Depan di Milan Usai Amorim Datang
Baca dalam 60 detik
- Rafael Leao mengaku akan memikirkan masa depannya di AC Milan setelah Piala Dunia 2026 usai, menyusul kedatangan pelatih anyar Ruben Amorim.
- Winger Portugal itu menjalani musim 2025-26 yang mengecewakan di bawah Massimiliano Allegri, dengan cedera dan posisi bermain yang tidak sesuai.
- Kontrak Leao di San Siro masih panjang hingga 2028 dengan klausul rilis €175 juta, namun ketidakpastian manajemen Milan bisa memicu hengkang.

Rafael Leao untuk pertama kalinya angkat bicara mengenai masa depannya di AC Milan setelah rekan senegaranya, Ruben Amorim, resmi ditunjuk sebagai pelatih anyar Rossoneri. Dalam pernyataan yang disampaikan Rabu (17/6) usai laga imbang Portugal 1-1 melawan DR Congo di Piala Dunia 2026, pemain sayap asal Portugal itu memilih untuk fokus pada turnamen terlebih dahulu sebelum memutuskan langkah karier selanjutnya.
“Saat ini saya hanya memikirkan Piala Dunia dan membantu tim nasional. Setelah Piala Dunia selesai, saya akan memikirkan masa depan,” ujar Leao, yang pada laga tersebut hanya tampil sebagai pemain pengganti di babak kedua. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa kepindahan Leao dari San Siro masih terbuka lebar, meski Amorim—pelatih yang baru diikat kontrak tiga tahun—sudah resmi memegang kendali.
Musim 2025-26 menjadi periode yang berat bagi Leao. Di bawah asuhan Massimiliano Allegri, ia kerap bermain di luar posisi naturalnya dan diganggu cedera. Dalam beberapa pekan terakhir, ia berulang kali menyatakan ingin mencari tantangan baru di bursa transfer musim panas. Kini, dengan hadirnya Amorim, masih belum jelas apakah rencana tersebut akan berubah. Amorim, yang sebelumnya sukses di Sporting CP, diharapkan mampu membangun kembali skuad Milan yang tengah dalam masa transisi.
Leao sendiri enggan mengomentari performanya yang kurang gemilang di laga kontra DR Congo. “Saya mencoba memberikan yang terbaik. Terkadang ada pertandingan di mana Anda tidak mencetak gol atau assist, tapi itu bukan berarti Anda bermain buruk,” katanya. Ia menambahkan bahwa pertahanan lawan yang rapat dengan dua hingga tiga pemain membuatnya kesulitan, namun ia tetap berusaha melakukan duel satu lawan satu. “Tim adalah yang terpenting. Kami harus bangkit dan bekerja keras. Kami harus memenangkan pertandingan berikutnya,” tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi Leao menjadi cerminan dinamika transfer pemain bintang di Eropa yang kerap diikuti dengan antusiasme tinggi. Ketidakpastian di kubu Milan—terutama soal struktur manajemen yang belum solid—bisa memicu pergerakan besar di bursa transfer. Jika Leao benar-benar hengkang, klub-klub kaya seperti Premier League atau raksasa La Liga diprediksi akan bersaing, mengingat klausul rilisnya yang fantastis. Namun, dengan kontrak jangka panjang, Milan masih punya posisi tawar yang kuat.
Ke depan, keputusan Leao akan sangat bergantung pada proyek olahraga yang ditawarkan Amorim. Akankah ia bertahan dan menjadi pilar kebangkitan Milan, atau justru memilih petualangan baru? Jawabannya baru akan terjawab setelah Piala Dunia usai—sebuah momen yang dinanti oleh para penggemar sepak bola di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.