Diet dan Olahraga 150 Menit Per Pekan Terbukti Cegah Penyakit Kronis pada Pradiabetes
Baca dalam 60 detik
- Studi 21 tahun menunjukkan intervensi gaya hidup lebih efektif daripada metformin dalam menekan risiko multimorbiditas pada penderita pradiabetes.
- Kelompok yang menjalani diet rendah lemak dan olahraga teratur memiliki median 4 penyakit kronis, lebih rendah dibanding kelompok metformin dan plasebo yang mencapai 5 penyakit.
- Temuan ini memperkuat bahwa perubahan pola makan dan aktivitas fisik tidak hanya mencegah diabetes, tetapi juga melindungi jantung, otak, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Lebih dari dua dekade data klinis menegaskan bahwa kombinasi diet ketat dan olahraga minimal 150 menit per minggu mampu menekan risiko munculnya berbagai penyakit kronis pada individu dengan pradiabetes, bahkan lebih unggul dibandingkan pemberian obat metformin. Temuan yang dipublikasikan di jurnal JAMA ini menggeser fokus pencegahan dari sekadar menghindari diabetes menjadi menjaga kesehatan multisistem dalam jangka panjang.
Penelitian yang melibatkan 1.173 partisipan dari program Diabetes Prevention Program (DPP) dan DPP Outcomes Study (DPPOS) ini membagi peserta secara acak ke dalam tiga kelompok: intervensi gaya hidup, pemberian metformin 850 mg dua kali sehari, dan plasebo. Kelompok gaya hidup menjalani 16 sesi individual yang diikuti pertemuan bulanan selama sekitar dua tahun, dengan target pengurangan asupan kalori dan lemak (<25% kalori dari lemak), serta aktivitas fisik minimal 150 menit per pekan untuk mencapai penurunan berat badan setidaknya 7% dari awal. Setelah itu, mereka mendapat sesi penyegaran dua kali setahun.
Hasilnya, setelah 21 tahun pemantauan, 85% partisipan mengalami multimorbiditas—kondisi memiliki dua atau lebih penyakit kronis. Namun, kelompok gaya hidup mencatatkan median hanya 4 penyakit kronis, sementara kelompok metformin dan plasebo sama-sama memiliki median 5 penyakit. Secara lebih rinci, 72% peserta dari kelompok gaya hidup memiliki lebih dari 3 penyakit kronis, jauh lebih rendah dibandingkan 81% pada kedua kelompok lainnya.
Thomas M. Holland, physician scientist dari RUSH Institute for Healthy Aging yang tidak terlibat dalam studi, menilai temuan ini sangat penting karena mengalihkan percakapan dari pencegahan penyakit tunggal menuju promosi kesehatan jangka panjang di berbagai sistem organ. “Intervensi gaya hidup tidak hanya mengurangi progresi menjadi diabetes, tetapi juga menurunkan risiko berkembangnya berbagai kondisi kronis selama lebih dari dua dekade,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perubahan gaya hidup memengaruhi banyak jalur biologis secara simultan, berbeda dengan metformin yang terutama memperbaiki sensitivitas insulin dan mengurangi produksi glukosa di hati.
David Cutler, dokter keluarga dari Providence Saint John’s Health Center, menekankan bahwa pesan utama studi ini sederhana namun kerap terabaikan: diet dan olahraga bekerja meningkatkan kualitas hidup. Ia menyayangkan masih minimnya upaya sosialisasi dibandingkan pemasaran obat-obatan dan terapi mahal. “Diet dan olahraga adalah alat ampuh untuk umur panjang dan anti-penuaan,” tegasnya.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi pradiabetes yang tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan sekitar 10,9% penduduk dewasa Indonesia mengalami diabetes, dan jumlah pradiabetes diperkirakan lebih besar lagi. Dengan sistem kesehatan yang masih terbatas, intervensi gaya hidup berbasis komunitas bisa menjadi strategi preventif yang lebih terjangkau. Pemerintah dan tenaga kesehatan perlu mendorong program olahraga teratur dan edukasi gizi seimbang, terutama pada kelompok usia produktif yang rentan terhadap gaya hidup sedentari dan konsumsi makanan tinggi lemak.
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana menerjemahkan bukti ilmiah ini ke dalam kebijakan publik yang efektif. Akankah kampanye “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat” (Germas) diperkuat dengan target terukur seperti 150 menit aktivitas fisik per minggu? Atau justru intervensi farmakologis tetap menjadi andalan karena lebih mudah diimplementasikan? Studi ini setidaknya memberi pijakan kuat bahwa investasi pada perubahan gaya hidup bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menekan beban penyakit kronis di masa depan.



