Trump Janji Kunjungi India: Sinyal Pencairan Hubungan di Tengah Ketegangan Tarif dan Insiden Militer
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump berjanji mengunjungi India dalam waktu dekat, menandai perbaikan hubungan setelah periode ketegangan akibat tarif dan insiden penembakan tiga pelaut India oleh militer AS.
- Pembahasan di sela KTT G7 mencakup kesepakatan dagang yang hampir final serta isu keamanan pelaut India di Selat Hormuz, yang menjadi sorotan domestik bagi PM Modi.
- Kunjungan yang direncanakan berpotensi memperkuat kerja sama pertahanan dan ekonomi, namun masih dibayangi perbedaan sikap soal Kashmir, imigrasi, dan kebijakan tarif baru AS.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengunjungi India dalam waktu yang belum ditentukan, sebuah langkah yang mengisyaratkan mencairnya hubungan bilateral yang sempat membeku akibat sengketa tarif dan insiden penembakan tiga pelaut India oleh militer AS. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Narendra Modi di sela-sela KTT G7 di Prancis, sekaligus mengonfirmasi bahwa kedua negara hampir mencapai kesepakatan dagang.
Hubungan Washington-New Delhi memasuki fase dingin sejak Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor terhadap India tahun lalu. Ketegangan semakin memuncak setelah militer AS menembak mati tiga pelaut India di Teluk Oman pekan lalu, yang memicu protes keras dari pemerintah India. Delhi bahkan dua kali memanggil diplomat senior AS untuk meminta klarifikasi atas insiden yang terjadi di tengah blokade pelabuhan Iran tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Modi mengangkat isu keselamatan pelaut India yang bekerja di Selat Hormuz—jalur strategis yang mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas dunia. India, yang mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya, menjadi salah satu negara paling terdampak oleh konflik di Iran dan penutupan selat tersebut. Meski selat itu segera dibuka kembali, stabilitas pasokan energi global diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih.
Trump menyebut Modi sebagai "negosiator tangguh" dan berjanji akan membantu India jika diserang—pernyataan yang ia kaitkan secara personal dengan Modi. "Jika ada yang menyerang orang itu, kami akan ada di sana... Tapi jika ada pemimpin baru, saya tidak yakin," ujar Trump. Pernyataan ini menuai kritik di dalam negeri India karena dianggap terlalu personal dan tidak mencerminkan hubungan negara-ke-negara.
Di sisi lain, Modi mendapat tekanan dari partai oposisi yang menuntut sikap lebih tegas terhadap AS. Dalam pidato di hadapan para pemimpin G7, Modi menyinggung konflik Timur Tengah dan menyoroti jatuhnya korban sipil India, seraya menekankan pentingnya membangun kepercayaan di tengah krisis global. "Dunia tidak kekurangan sumber daya, tetapi kekurangan kepercayaan. Masa depan kemitraan kita bergantung pada pembangunan kepercayaan ini," kata Modi, yang oleh sejumlah pengamat dikaitkan dengan pertemuannya dengan Trump.
Selain isu tarif dan keamanan, hubungan AS-India juga diwarnai perbedaan pandangan soal Kashmir. Delhi menolak mediasi pihak ketiga, termasuk tawaran Trump yang mengklaim telah menjadi penengah gencatan senjata India-Pakistan pada 2025. Pakistan, yang selama ini menjaga hubungan baik dengan Washington, bahkan berperan sebagai perantara antara AS dan Iran dalam upaya perdamaian. Faktor lain yang mengganjal adalah kebijakan imigrasi Trump yang memperketat visa H-1B, jalur utama tenaga kerja terampil India ke AS.
Kesepakatan dagang yang tengah dirundingkan diharapkan menjadi titik balik. Menteri Perdagangan India menyebut negosiasi pekan depan sebagai "sentuhan akhir". Namun, ketidakpastian masih menyelimuti rencana tarif baru AS terkait praktik kerja paksa yang menyasar India. Pertanyaan besarnya: akankah kunjungan Trump benar-benar terjadi, atau sekadar retorika di tengah pusaran kepentingan geopolitik yang kompleks?



