Umah Pitu Ruang: Kearifan Lokal Gayo yang Tangguh Hadapi Bencana
Baca dalam 60 detik
- Pembangunan desa di Dataran Tinggi Gayo yang tak terencana meningkatkan kerentanan terhadap bencana alam.
- Umah pitu ruang, rumah adat dengan tujuh ruangan, terbukti kokoh dan multifungsi sebagai tempat evakuasi saat banjir Senyar 2025.
- Revitalisasi umah pitu ruang dan penataan kampung berbasis zonasi dapat memadukan pelestarian budaya dengan mitigasi bencana.

Di tengah gempuran pembangunan modern yang kerap mengabaikan kondisi alam, Dataran Tinggi Gayo, Aceh, menyimpan warisan arsitektur yang justru menjadi solusi adaptif terhadap bencana: umah pitu ruang. Rumah adat dengan tujuh ruangan ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang publik multifungsi yang telah teruji ketangguhannya saat banjir Senyar melanda Sumatra pada November 2025.
Dataran Tinggi Gayo memiliki risiko geologis tinggi karena berada di zona patahan aktif, ditambah kerentanan hidrometeorologi akibat alih fungsi lahan. Namun, perkampungan tradisional Gayo dulu dibangun di lokasi aman—area tinggi dekat sumber air—dengan struktur ruang yang harmonis secara ekologis dan kosmologis. Setiap kampung memiliki beberapa umah pitu ruang, sekitar tiga hingga lima bangunan, yang menjadi pusat administrasi dan kegiatan sosial.
Sayangnya, sejak era kolonial Belanda, tradisi ini mulai memudar. Masyarakat beralih ke hunian sederhana yang berkembang dari rumah kebun. Kebijakan pemerintah yang menetapkan Gayo sebagai kawasan pertanian, perkebunan, dan perhutanan semakin menyisakan sedikit lahan untuk permukiman. Akibatnya, desa-desa tumbuh secara sporadis di pinggir jalan tanpa perencanaan matang, mengabaikan karakter lahan dan meningkatkan risiko bencana.
Banjir Senyar 2025 menjadi bukti nyata kerentanan tersebut. Banyak perkampungan rusak dan kekurangan tempat evakuasi. Di sisi lain, umah pitu ruang di Desa Genuren, Kecamatan Bintang, justru menjadi lokasi aman bagi perempuan, lansia, dan anak-anak. Bangunan ini, dengan desain luas dan material lokal, mampu menampung warga saat darurat. Sementara itu, masjid yang ada tidak dirancang sebagai tempat tinggal sementara.
Filosofi arsitektur umah pitu ruang lahir dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan adat. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan pembinaan generasi muda. Pada malam hari, sesepuh desa mengajarkan seni didong—perpaduan sastra, vokal, dan gerak—yang menjadi media komunikasi dan kritik sosial. Kini, fungsi komunal ini bisa dihidupkan kembali sebagai strategi adaptasi bencana.
Para peneliti dari CommsLab dan The Conversation Indonesia mengusulkan revitalisasi umah pitu ruang dalam kerangka smart village. Dalam konsep ini, umah pitu ruang ditempatkan di zona pusat desa bersama masjid, ruang terbuka, meunasah, dan koperasi. Zona ini menjadi simpul aktivitas warga sekaligus tempat evakuasi. Selanjutnya, zona permukiman dirancang dengan hunian kecil-sedang yang memiliki pekarangan untuk tanaman pangan, serta dinding antar rumah yang bisa dilepas untuk kegiatan besar. Zona pertanian dan konservasi fokus pada kopi Gayo, agroforestri, dan tanaman lokal.
Pemulihan pascabencana di Gayo menjadi momentum tepat untuk mengintegrasikan warisan budaya dengan mitigasi bencana. Material konstruksi umah pitu ruang yang berbasis sumber daya lokal juga dapat menghidupkan kembali hutan adat di sekitar kampung. Pertanyaannya, mampukah pemerintah dan masyarakat Gayo bersinergi mewujudkan penataan kampung yang tangguh tanpa meninggalkan identitas budaya?