XRP Terperosok ke $1,22 di Tengah Ekspansi Ripple ke Afrika: Investasi di Flutterwave Gagal Dongkrak Harga
Baca dalam 60 detik
- Harga XRP anjlok 2,4% dalam 24 jam setelah gagal menembus level $1,25, dengan volume jual mencapai 87,5 juta token.
- Ripple menginvestasikan dana di Flutterwave, perusahaan fintech Afrika, untuk mengintegrasikan stablecoin RLUSD ke dalam sistem pembayaran lintas batas.
- Tekanan jual diperparah oleh sikap wait-and-see investor menjelang keputusan suku bunga The Fed yang dapat memicu volatilitas lebih lanjut.

Harga XRP ambles ke level $1,22 dalam perdagangan 24 jam terakhir, mencatatkan kinerja terburuk di antara aset kripto utama setelah gagal mempertahankan momentum breakout teknis. Penurunan ini terjadi tepat saat Ripple mengumumkan investasi strategis di Flutterwave, perusahaan fintech asal Afrika, yang seharusnya menjadi katalis positif bagi ekosistem XRP.
Ripple mengonfirmasi partisipasinya dalam putaran pendanaan Seri E Flutterwave, dengan fokus utama mengintegrasikan stablecoin berbasis dolar AS miliknya, RLUSD, ke dalam infrastruktur pembayaran perusahaan tersebut. Seluruh transaksi akan diselesaikan di XRP Ledger (XRPL), menjanjikan pengiriman uang lintas batas yang lebih cepat dan murah bagi pelaku bisnis di Afrika. Langkah ini dinilai analis sebagai strategi jangka panjang Ripple untuk memperluas utilitas XRPL sebagai lapisan penyelesaian pembayaran riil di pasar remitansi yang sangat potensial.
Namun, sentimen positif dari kemitraan tersebut tidak mampu menahan aksi jual besar-besaran yang dipicu oleh kegagalan XRP menembus resistance $1,25 pada 17 Juni. Data menunjukkan bahwa setelah mencapai level tersebut, tekanan jual langsung menguat dan mendorong harga kembali ke bawah zona support $1,22โ$1,23. Analis teknikal mencatat bahwa konfirmasi penjualan disertai lonjakan volume yang signifikan, menandakan bahwa para pedagang memanfaatkan reli untuk keluar dari posisi.
Pelemahan XRP juga terjadi dalam konteks pasar kripto yang secara umum sedikit negatif, dengan kapitalisasi pasar turun 0,20% dalam 24 jam dan Bitcoin terkoreksi 0,54%. Faktor makroekonomi menjadi pemicu utama: investor mengurangi eksposur risiko menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berakhir pada 17 Juni. Ini adalah keputusan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, sehingga pasar bersikap sangat hati-hati.
Bagi pasar Indonesia, pergerakan XRP ini relevan mengingat volume perdagangan aset kripto di dalam negeri yang terus meningkat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti tengah memperketat regulasi bursa kripto, dan volatilitas harga seperti yang dialami XRP bisa mempengaruhi minat investor ritel Indonesia. Selain itu, ekspansi Ripple ke Afrika melalui Flutterwave juga membuka peluang bagi pengembangan koridor remitansi serupa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang memiliki volume pengiriman uang dari pekerja migran yang besar.
Ke depan, level $1,20 menjadi garis pemisah antara koreksi normal dan penurunan yang lebih dalam. Jika XRP mampu bertahan di atas level tersebut, rebound menuju $1,23 masih mungkin terjadi. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan $1,20 jebol, target berikutnya adalah $1,15. Reaksi pasar terhadap keputusan The Fed dan munculnya volume beli untuk mempertahankan support akan menentukan arah jangka pendek XRP. Pertanyaannya, akankah investasi di Flutterwave memberikan dampak fundamental yang cukup untuk mengimbangi tekanan teknis dan makro saat ini?



