Bitcoin Terjun 5,3% ke US$62.351: Sinyal The Fed dan Arus Keluar ETF Pukul Sentimen Pasar
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin ambles 5,3% ke US$62.351, dipicu sikap hawkish The Fed dan arus keluar dana dari ETF spot Bitcoin di AS yang mencapai US$82,16 juta.
- ETF BlackRock dan Ark menjadi motor utama outflow, sementara likuidasi posisi leverage senilai US$176,54 juta mempercepat penurunan harga.
- Level support kritis di US$62.358 (200-week MA) menjadi penentu arah selanjutnya; jika tembus, Bitcoin berpotensi menguji US$60.000.

Bitcoin (BTC) mengalami tekanan jual besar-besaran dan merosot 5,3% ke level US$62.351, mencatatkan kinerja terburuk di tengah pelemahan pasar kripto yang lebih luas. Penurunan ini dipicu oleh sikap hawkish dari Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, yang mengisyaratkan tidak ada pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dan bahkan kemungkinan kenaikan tahun ini.
Pernyataan Warsh dalam debutnya mengejutkan pasar karena menghilangkan harapan akan pelonggaran moneter yang sebelumnya menjadi pendorong utama permintaan institusional terhadap aset kripto. Akibatnya, dana yang dikelola secara profesional mulai ditarik dari produk investasi berbasis Bitcoin. Data menunjukkan bahwa pada 17 Juni, ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih sebesar US$82,16 juta, dengan ARKB milik Ark Invest memimpin sebesar US$43,53 juta, diikuti oleh IBIT milik BlackRock sebesar US$30,76 juta.
Menariknya, di tengah arus keluar ini, BlackRock justru mencatatkan posisi sebagai entitas pemegang Bitcoin terbesar ketiga di dunia, hanya di bawah Satoshi Nakamoto dan Coinbase, dengan kepemilikan sekitar 764.000 BTC. Posisi ini melampaui Binance dan bahkan Strategy (sebelumnya MicroStrategy) yang memiliki 847.000 BTC. Namun, aksi jual institusional tetap mendominasi karena kekhawatiran makroekonomi mengalahkan sentimen akumulasi jangka panjang.
Penurunan harga Bitcoin juga memicu gelombang likuidasi paksa di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi Bitcoin mencapai US$176,54 juta, dengan posisi long menyumbang lebih dari US$160 juta. Konsentrasi tinggi posisi leverage yang overextended menjadi bahan bakar yang mempercepat penurunan saat level stop-loss terpicu. Kondisi ini membuat struktur teknikal jangka pendek Bitcoin melemah, dengan harga terperangkap di bawah level Fibonacci retracement 78,6% di sekitar US$64.230 dan rata-rata pergerakan 7 hari di US$63.545.
Meskipun Relative Strength Index (RSI) menunjukkan kondisi oversold yang dapat memicu bounce teknis, jalur resistensi terendah masih mengarah ke bawah hingga Bitcoin mampu merebut kembali level US$64.230. Perhatian pasar kini tertuju pada rata-rata pergerakan 200 minggu di dekat US$62.358, yang merupakan level support historis kritis. Jika harga berhasil ditutup di bawah level tersebut, para analis memperkirakan Bitcoin berpotensi turun lebih lanjut menuju US$60.000.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat bahwa pasar kripto masih sangat rentan terhadap perubahan kebijakan moneter global. Dengan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, minat terhadap aset berisiko seperti Bitcoin cenderung menurun. Selain itu, likuidasi besar-besaran menunjukkan risiko tinggi bagi trader yang menggunakan leverage. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah level support US$62.358 mampu bertahan atau justru menjadi pintu menuju koreksi yang lebih dalam.



