Pereira Gugat Kekalahan: Pukulan Ilegal Gane Hancurkan Ambisi Juara Tiga Divisi UFC
Baca dalam 60 detik
- Alex Pereira mengklaim pukulan ilegal Ciryl Gane ke bagian belakang kepala menjadi penyebab kekalahannya di UFC, menghentikan langkahnya menjadi juara tiga divisi.
- Wasit Herb Dean membela keputusannya dengan merujuk pada aturan yang membingungkan tentang area terlarang di kepala, memicu perdebatan di kalangan petarung.
- Insiden ini kembali menyoroti kontroversi gaya bertarung Gane, yang sebelumnya dituduh curang oleh Tom Aspinall setelah pertarungan mereka.

Alex Pereira, mantan juara kelas menengah dan kelas berat ringan UFC, menuding lawannya Ciryl Gane menggunakan pukulan ilegal yang menyebabkan kekalahannya dalam perebutan gelar interim kelas berat di Washington DC, Minggu (9/3). Kekalahan ini memupus ambisi Pereira menjadi petarung pertama dalam sejarah UFC yang meraih sabuk juara di tiga divisi berbeda.
Dalam pertarungan yang berlangsung di White House event tersebut, Gane menjatuhkan Pereira dengan pukulan jab, lalu melancarkan serangkaian siku dan pukulan ke arah kepala Pereira yang sedang berusaha bangkit. Pereira mengklaim beberapa pukulan itu mendarat di bagian belakang kepalanya, area yang dilarang dalam peraturan UFC. Wasit Herb Dean menghentikan pertarungan di ronde kedua setelah Pereira tak mampu melanjutkan.
Melalui kanal YouTube-nya, Pereira mengungkapkan kekecewaannya. "Saya sedang bangun, dan itu menjadi sulit untuk pulih. Saya yakin jika bukan karena pukulan-pukulan itu, saya mungkin bisa bangkit kembali. Mungkin tidak, tapi pukulan itu sangat keras dan ilegal," ujarnya. Pereira bahkan mengunggah foto di Instagram yang memperlihatkan bengkak dan memar di bagian belakang kepalanya sebagai bukti.
Yang menarik, Pereira mengaku sudah memperingatkan Dean sehari sebelum pertarungan tentang kecenderungan Gane melakukan pukulan ilegal. "Saya bilang, 'lihat, tusukan mata, pukulan selangkangan, itu bisa terjadi, tapi orang ini punya sejarah panjang pukulan kotor, pukulan ke belakang kepala, siku', jadi saya khawatir," kata Pereira. Ia menyesali peringatannya tidak diindahkan.
Dean membela keputusannya dengan menjelaskan aturan yang rumit. "Aturan yang kita bicarakan adalah bagian belakang kepala, yang membingungkan. Ini berbeda dengan tinju. Cara kami menegakkan aturan ini adalah fokus pada tengkuk leher, yang seharusnya menjadi nama aturan itu," ujar Dean. Ia menegaskan bahwa pukulan ke tengkuk dan area dua inci di bawahnya adalah ilegal, tetapi pukulan ke sisi kepala diperbolehkan.
Kontroversi ini bukan yang pertama bagi Gane. Petarung Inggris Tom Aspinall, yang pertarungannya dengan Gane pada Oktober lalu dinyatakan no contest setelah Gane beberapa kali menusuk matanya, menyebut Gane sebagai "cheat". "Sepertinya ada banyak siku ilegal yang terjadi," kata Aspinall, yang harus menjalani operasi pada kedua matanya akibat insiden tersebut. Gane membantah tuduhan itu dengan mengatakan, "Saya menghormati aturan."
Bagi penggemar MMA di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kejelasan regulasi dalam olahraga tarung. Dengan semakin populernya UFC di Tanah Air, di mana banyak petarung lokal bermimpi menembus panggung dunia, konsistensi wasit dan aturan yang transparan menjadi krusial. Pertarungan bersih tanpa kontroversi akan melindungi petarung dan menjaga kredibilitas olahraga.
Ke depannya, Pereira kemungkinan akan mengajukan banding atau menuntut pertarungan ulang. Gane, di sisi lain, siap menghadapi juara kelas berat Jon Jones atau petarung papan atas lainnya. Namun, satu pertanyaan mengemuka: akankah UFC merevisi aturan pukulan ke belakang kepala untuk menghindari ambiguitas serupa di masa depan?



