Pertarungan UFC di Halaman Gedung Putih: Gugatan Ditolak, Acara Tetap Jalan
Baca dalam 60 detik
- Hakim federal menolak gugatan yang berupaya membatalkan acara UFC di Gedung Putih, yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (14/6) sebagai bagian perayaan 250 tahun kemerdekaan AS.
- Gugatan dari Public Integrity Project dinilai terlambat diajukan dan tidak cukup bukti kerugian, sehingga hakim memutuskan acara tetap dilanjutkan dengan investasi UFC sekitar 60 juta dolar AS.
- Acara ini menjadi pertunjukan olahraga profesional pertama di halaman Gedung Putih, memicu perdebatan etika penggunaan properti nasional untuk kepentingan swasta.

Gugatan hukum yang mencoba menghentikan perhelatan Ultimate Fighting Championship (UFC) di halaman Gedung Putih resmi ditolak oleh pengadilan federal. Dengan putusan ini, acara bertajuk UFC Freedom 250 yang digelar pada Minggu (14/6) dipastikan berlangsung sesuai rencana, menandai kali pertama dalam sejarah Gedung Putih menjadi tuan rumah pertandingan olahraga profesional secara langsung.
Acara yang digelar di South Lawn tersebut merupakan bagian dari perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat sekaligus merayakan ulang tahun ke-80 Presiden Donald Trump. Namun, rencana ini menuai kontroversi setelah Public Integrity Project, sebuah kelompok pengawas etika, mengajukan gugatan darurat pekan lalu. Mereka menuding pemerintah Trump telah menyalahgunakan monumen nasional untuk keuntungan pribadi dengan menggelar acara olahraga swasta di properti publik yang dilindungi aturan National Park Service.
Hakim Amit P. Mehta dari Pengadilan Distrik AS di Washington DC menolak gugatan tersebut dengan alasan penggugat gagal menunjukkan bahwa mereka akan menderita kerugian yang tidak dapat dipulihkan atau cedera estetika akibat pertarungan UFC. Mehta juga mencatat bahwa acara tersebut sudah menjadi pengetahuan publik hampir setahun, tetapi Public Integrity Project baru mengajukan gugatan pada 7 Juni 2026โlebih dari dua pekan setelah persiapan terlihat di Gedung Putih. Keterlambatan ini, menurut Mehta, melemahkan klaim mereka tentang kerugian yang mendesak.
Pemerintah Trump, melalui pernyataan resmi, menyebut gugatan tersebut sebagai โobstruksionis, tidak berdasar, dan hanya bertujuan menghalangi Presiden Trump menyelenggarakan acara olahraga paling bersejarah dalam sejarah bangsa ini.โ Gedung Putih sebelumnya pernah menjadi tuan rumah acara rekreasi dan olahraga, tetapi ini adalah kali pertama pertandingan profesional digelar di kompleks kepresidenan tersebut.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menarik untuk dicermati karena menunjukkan bagaimana acara olahraga besar dapat menjadi alat diplomasi dan politik. Di tengah tren global di mana olahraga semakin terintegrasi dengan kepentingan politik, Indonesia perlu mempertimbangkan regulasi yang jelas tentang penggunaan fasilitas publik untuk acara komersial. Pengalaman AS ini bisa menjadi pelajaran tentang batas antara perayaan nasional dan kepentingan pribadi, terutama di era di mana olahraga seperti UFC memiliki basis penggemar yang besar di Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah preseden ini akan membuka pintu bagi lebih banyak acara komersial di properti publik AS, atau justru memicu gelombang gugatan serupa. Dengan investasi besar dan sorotan media global, UFC Freedom 250 tidak hanya menjadi ajang pertarungan di oktagon, tetapi juga medan pertarungan hukum dan etika yang belum selesai.



