Messi Buktikan Diri Masih Fundamental: Hat-trick Bawa Argentina ke Puncak Rekor Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi mencetak hat-trick saat Argentina mengalahkan Aljazair 3-0, menyamai rekor 16 gol Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia pria.
- Penampilan megabintang 38 tahun itu sekaligus membungkam keraguan soal kebugarannya setelah pulih dari cedera otot, serta menegaskan perannya sebagai motor tim juara bertahan.
- Dengan kemungkinan ini menjadi Piala Dunia terakhirnya, Messi kembali menunjukkan bahwa dirinya tetap menjadi aset paling berharga bagi Argentina di turnamen yang digelar di AS, Meksiko, dan Kanada.
Lionel Messi kembali menuliskan sejarah di ajang Piala Dunia. Dalam laga Argentina kontra Aljazair di Kansas City, Selasa (16/6) malam, pemain berusia 38 tahun itu mencetak tiga gol yang membawa timnya menang telak 3-0 sekaligus menyamai rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa turnamen milik Miroslav Klose, yakni 16 gol.
Penampilan gemilang itu bukan sekadar soal angka. Messi, yang baru pulih dari cedera otot, tampil penuh intensitas sejak menit awal. Ia bahkan merebut bola dari kaki pemain Aljazair di area pertahanan lawan pada menit kedua, menunjukkan bahwa insting dan daya juangnya belum luntur meski usianya sudah tidak muda lagi. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, sebelumnya menyatakan bahwa Messi kini "bahkan lebih penting" bagi tim dibandingkan saat mereka juara pada 2022. Pernyataan itu terbukti di lapangan.
Gelandang Rodrigo De Paul, yang menjadi pengumpan gol pertama Messi, memuji sikap kaptennya yang selalu mengutamakan tim. "Dia tidak peduli pada rekor individu. Dia memprioritaskan tim, dan itu luar biasa bagi kami," ujar De Paul. Messi sendiri, yang sudah mengoleksi delapan Ballon d'Or, lebih memilih bicara lewat aksi. Gol demi gol ia lesakkan, membuat ribuan suporter Argentina di stadion bersorak dan memberi hormat layaknya seorang mesias.
Kehadiran Messi di Piala Dunia 2026—yang kemungkinan besar menjadi turnamen terakhirnya—memberi dimensi emosional tersendiri. Ribuan penggemar Argentina berkumpul sehari sebelumnya di Mill Creek Park dengan kaus bertuliskan "Messiah". Di stadion, ketika ia digantikan Nico Paz pada menit ke-80, para suporter berdiri dan memberi hormat. Bahkan bintang NFL Kansas City Chiefs, Patrick Mahomes, yang hadir di tribun, mengunggah video Messi dengan emoji kambing—simbol "terhebat sepanjang masa" di dunia olahraga.
Bagi Indonesia, performa Messi ini menjadi pengingat bahwa usia bukanlah halangan untuk tetap kompetitif di level tertinggi. Di tengah gempuran pemain muda Eropa, Messi membuktikan bahwa pengalaman dan kecerdasan bermain masih menjadi senjata mematikan. Di sisi lain, dominasi Argentina di Piala Dunia juga bisa menjadi referensi bagi pengembangan sepak bola nasional, khususnya dalam membangun mental juara dan konsistensi tim.
Scaloni, seusai pertandingan, hanya bisa geleng-geleng kepala. "Aku tak bisa berkata-kata melihat Leo. Dia luar biasa. Dia sudah melakukan ini selama 20 tahun. Semua orang di sepak bola ingin menontonnya dan menikmatinya," ujar pelatih berusia 47 tahun itu. Pertanyaan selanjutnya: akankah Messi mampu mempertahankan performa ini hingga fase gugur? Atau justru turnamen ini akan menjadi panggung perpisahan yang sempurna bagi sang legenda?



