Tuchel Sebut Piala Dunia Puncak Karier Kepelatihan, Siap Bawa Inggris ke Final
Baca dalam 60 detik
- Thomas Tuchel akan memulai debut Piala Dunia bersama Inggris melawan Kroasia di Stadion Dallas, Rabu (16/6).
- Pelatih asal Jerman itu menegaskan turnamen ini adalah panggung terbesar dalam kariernya, melebihi gelar Liga Champions dan titel domestik.
- Inggris harus mewaspadai lini tengah Kroasia yang masih diperkuat Luka Modric dan Mateo Kovacic, serta fleksibilitas taktik Zlatko Dalic.
Thomas Tuchel, pelatih asal Jerman yang kini menukangi Timnas Inggris, menyebut Piala Dunia sebagai puncak karier kepelatihannya. Pernyataan itu disampaikan menjelang laga perdana Inggris di Grup L melawan Kroasia di Stadion Dallas, Rabu (16/6) waktu setempat. Bagi Tuchel, turnamen ini bukan sekadar ajang bergengsi, melainkan ujian terbesar dalam perjalanan profesionalnya.
Tuchel, yang telah mengoleksi gelar juara di Bundesliga, Ligue 1, dan Liga Champions bersama Chelsea pada 2021, mengakui bahwa atmosfer Piala Dunia berbeda dari kompetisi lainnya. "Ini panggung terbaik, turnamen terbesar di dunia, dengan pemain-pemain terbaik. Saya bersyukur bisa menjadi pelatih Inggris dan merasakan pengalaman ini," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (14/6). Ia menambahkan bahwa Piala Dunia datang dengan tanggung jawab besar, dan ia bertekad untuk mempersiapkan tim secara maksimal.
Inggris sendiri belum pernah meraih gelar Piala Dunia sejak 1966. Tuchel sadar akan beban sejarah itu, namun ia menolak larut dalam mimpi yang berlebihan. "Kami bermimpi, kami punya hak untuk bermimpi, tapi kami tidak ingin delusional. Semua harus diimbangi dengan kerja keras," tegasnya. Laga kontra Kroasia akan menjadi ujian awal yang krusial, mengingat kedua tim pernah bertemu di semifinal 2018, saat Kroasia menyingkirkan Inggris.
Tuchel juga harus melakukan perubahan mendadak pada skuadnya. Bek Newcastle United, Tino Livramento, mengalami cedera dan digantikan oleh Trevoh Chalobah dari Chelsea. "Kami memanggil Chalobah untuk memberi opsi di posisi bek tengah, sehingga Jarell Quansah dan Djed Spence bisa lebih leluasa sebagai full-back," jelas Tuchel. Penyesuaian ini menunjukkan kesiapan Tuchel dalam menghadapi situasi darurat, sebuah kualitas yang diuji di turnamen besar.
Di sisi lawan, Kroasia datang dengan pengalaman turnamen yang kaya. Meski usia pemain inti sudah tidak muda, Tuchel menaruh respek tinggi. "Mereka masih memiliki jantung tim di lini tengah dengan Modric dan Kovacic. Ivan Perisic juga selalu menjadi ancaman dari sisi kiri. Mereka sangat fleksibel, bisa bermain dengan empat atau lima bek, dan mampu beradaptasi selama pertandingan," analisis Tuchel. Ia menekankan bahwa Inggris harus tampil kompleks dan mengambil inisiatif sejak awal untuk meraih kemenangan.
Bagi Indonesia, Piala Dunia selalu menjadi tontonan yang dinanti. Meski Timnas Indonesia belum pernah lolos, antusiasme publik tetap tinggi. Kehadiran pelatih sekelas Tuchel di panggung global menambah daya tarik turnamen. Penggemar sepak bola Tanah Air bisa belajar dari pendekatan taktis Tuchel yang dikenal disiplin dan adaptif. Laga Inggris vs Kroasia akan menjadi salah satu pertandingan yang patut disaksikan, mengingat sejarah sengit kedua tim.
Dengan segala persiapan dan tekanan, Tuchel optimistis timnya bisa bersaing. Namun, ia juga sadar bahwa Piala Dunia adalah turnamen yang penuh kejutan. Pertanyaan besarnya: mampukah Tuchel mengulang sukses ala Sir Alf Ramsey, atau justru Kroasia kembali menjadi batu sandungan? Jawabannya mulai terjawab Rabu dini hari nanti.



