Rupiah Kembali Terpuruk ke Rp17.735, BI dan The Fed Jadi Penentu
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,25% ke Rp17.735 per dolar AS setelah libur panjang, membalikkan penguatan sebelumnya.
- Pelemahan terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed dan RDG Bank Indonesia yang berlangsung hari ini.
- Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga secara agresif dalam dua bulan terakhir, namun tekanan terhadap rupiah masih berlanjut.

Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke zona merah pada pembukaan perdagangan Rabu (17/6/2026), melemah 0,25 persen ke level Rp17.735 per dolar Amerika Serikat, setelah pasar keuangan domestik libur sehari memperingati Tahun Baru Hijriah. Pelemahan ini memupus harapan penguatan yang sempat terjadi dua hari sebelumnya, saat rupiah ditutup menguat nyaris satu persen ke Rp17.690.
Pergerakan mata uang Garuda pagi ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi. Indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil di kisaran 99,5, tetapi tren pelemahan greenback dalam empat hari terakhir belum cukup kuat untuk mendorong rupiah bangkit. Pelaku pasar memilih wait and see menjelang dua keputusan moneter penting: pengumuman suku bunga Federal Reserve di bawah kepemimpinan baru Kevin Warsh, serta Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang digelar pada 17-18 Juni.
Dari sisi global, perhatian tertuju pada pertemuan perdana The Fed yang dipimpin Kevin Warsh. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga, namun pernyataan kebijakan dan proyeksi ekonomi akan dicermati untuk mencari petunjuk apakah The Fed mulai meninggalkan bias dovish. Kekhawatiran inflasi yang kembali muncul membuat pejabat The Fed lebih waspada, sehingga sinyal pengetatan bisa menekan aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, optimisme terhadap kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran turut mempengaruhi sentimen. Kesepakatan tersebut mendorong minat pada aset berisiko dan menekan permintaan dolar AS, yang seharusnya menguntungkan rupiah. Namun, efek positif itu belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari dalam negeri dan antisipasi kebijakan The Fed.
โPasar menanti sinyal dari The Fed dan BI. Jika The Fed memberikan nada hawkish, rupiah bisa tertekan lebih dalam. Sebaliknya, jika BI kembali menaikkan suku bunga, mungkin ada sedikit ruang bagi rupiah untuk stabil,โ ujar analis pasar uang yang enggan disebutkan namanya.
Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadi sorotan utama. Pada pekan lalu, BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% melalui RDG mingguan, setelah sebelumnya menaikkan 50 bps pada RDG bulanan. Langkah agresif ini menunjukkan tekad BI untuk menjaga stabilitas rupiah, meskipun tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlangsung. Pasar kini bertanya-tanya apakah BI akan kembali menaikkan suku bunga pada RDG kali ini atau justru mempertahankannya.
Keputusan BI akan sangat krusial bagi perekonomian Indonesia. Kenaikan suku bunga yang terlalu cepat dapat menghambat pertumbuhan, sementara jika terlalu lambat, rupiah berisiko terus melemah dan memicu inflasi impor. Pelaku pasar akan mencermati pernyataan Gubernur BI setelah RDG selesai untuk mendapatkan gambaran arah kebijakan ke depan.
Dengan dua bank sentral besar yang mengambil keputusan dalam waktu berdekatan, volatilitas rupiah diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. Pertanyaannya, akankah BI mampu menahan laju pelemahan rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi?



