Robin Roefs, Kiper Rp230 M yang Bikin Sunderland Lupakan Defoe
Baca dalam 60 detik
- Robin Roefs menjadi kiper pertama Sunderland sejak 1973 yang mencatat clean sheet di kompetisi Eropa, mengalahkan AZ Alkmaar 1-0.
- Dibeli hanya £11,5 juta dari NEC Nijmegen, Roefs tampil lebih konsisten dibanding Enzo Le Fee yang berharga £19,3 juta.
- Dengan usia 23 tahun, Roefs berpotensi menjadi penjualan termahal Sunderland sekaligus mengubah cara klub kecil mengelola transfer.

Sunderland mengukir sejarah Eropa yang sudah lama dinanti. Kemenangan 1-0 atas AZ Alkmaar di Stadium of Light, Kamis dini hari WIB, menjadi kemenangan pertama The Black Cats di kompetisi Eropa sejak 1973 — dan di baliknya berdiri seorang kiper muda Belanda yang dibeli dengan harga jauh di bawah pasar.
Robin Roefs, 23 tahun, mencatat clean sheet bersejarah itu dengan mementahkan 0,83 expected goals (xG) milik wakil Eredivisie tersebut. Ia menjadi penjaga gawang Sunderland pertama dalam 52 tahun yang menutup pertandingan Eropa tanpa kebobolan. Padahal, saat didatangkan dari NEC Nijmegen pada musim panas 2025, ia hanya dihargai £11,5 juta — angka yang bahkan tidak menempatkannya di sepuluh transfer termahal klub.
Sebagai perbandingan, Enzo Le Fee ditebus permanen dari AS Roma setahun sebelumnya dengan biaya £19,3 juta. Gelandang serang Prancis itu memang menjadi motor serangan Sunderland: sejak awal musim lalu, ia mencetak delapan gol, menciptakan 16 peluang besar, dan menyumbang enam assist di semua kompetisi. Statistik itu menempatkannya sebagai yang terbaik di skuad untuk ketiga kategori tersebut.
Namun, ada argumen kuat bahwa Roefs justru lebih berharga. Konsistensinya di bawah mistar jauh lebih stabil dibandingkan Le Fee yang kerap melewati periode sepi kontribusi. Pada musim perdananya di Premier League, Roefs langsung menembus jajaran kiper teratas: peringkat ketiga untuk penyelamatan (109), kelima untuk penalti yang digagalkan (satu), dan pertama untuk bola silang yang dikuasai (45).
Keputusan merekrut Roefs tidak lepas dari penilaian manajer Regis Le Bris. Meski tim pemandu bakat mengidentifikasi nama, Le Bris yang menentukan siapa yang layak dibeli dengan dana besar. Penulis sepak bola Eropa, Adam Fulwell, bahkan menyebut bahwa "siapa pun yang merekrut Robin Roefs pantas dibuatkan patung" karena kiper itu dinilainya luar biasa.
"Siapa pun yang merekrut Robin Roefs pantas dibuatkan patung. Kiper ini unbelievable," tulis Adam Fulwell, penulis sepak bola Eropa, April lalu.
Bagi Sunderland, sosok Roefs mengingatkan pada era Jermain Defoe. Penyerang Inggris itu dibeli £3 juta dari Toronto pada Januari 2015 dan mencetak 37 gol dalam 100 penampilan, termasuk 15 gol Premier League di dua musim berturut-turut. Defoe menjadi ikon terakhir yang dianggap sebagai pembelian terbaik klub. Kini, Roefs disebut-sebut layak menyandang status serupa — bahkan lebih baik dari Le Fee.
Dari kacamata bisnis klub, profil Roefs sangat menguntungkan. Usianya masih 23 tahun, tiga tahun lebih muda dari Le Fee, dan harganya hampir £8 juta lebih murah. Jika performanya berlanjut, Sunderland berpeluang menjualnya dengan keuntungan besar di masa depan — sesuatu yang jarang terjadi pada kiper dengan harga segitu.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Roefs menawarkan pelajaran berharga tentang efisiensi transfer. Klub-klub Liga 1 kerap mengeluarkan dana besar untuk pemain menyerang, sementara posisi kiper sering diabaikan. Padahal, kiper muda dengan harga rendah dan data penyelamatan mumpuni bisa menjadi aset jangka panjang, baik dari sisi performa maupun nilai jual. Pendekatan berbasis data seperti yang dilakukan Sunderland bisa menjadi cetak biru bagi manajemen klub di tanah air yang ingin bersaing di level Asia.
Ke depan, tantangan Roefs adalah menjaga konsistensi di kompetisi domestik dan Eropa. Jika ia mampu membawa Sunderland melaju jauh di Eropa dan bersaing di papan atas Premier League, statusnya sebagai pembelian terbaik sejak Defoe akan semakin sulit dibantah. Pertanyaannya, akankah klub-klub besar mulai mengantre untuk kiper yang dibeli seharga pemain cadangan ini?



